Tari Galuh Marikit

LOMBA CIPTA PUISI,MENULIS CERPEN, CERITA RAKYAT DAN PAGELARAN SASTRA

Dalam rangka Aruh Sastra ke-8 Kalimantan Selatan di Barabai HST, tgl 16 – 19 September 2011 dengan Tema “ Menebar Benih Sastra di Banua Murakata”, Panitia Penyelenggara membuka kesempatan bagi penulis yang berdomisili di wilayah Kalimantan Selatan untuk mengikuti beberapa lomba yaitu :
1) Lomba cipta puisi bahasa Indonesia, tema bebas.
2) Lomba menulis cerpen bahasa Indonesia, tema bebes.
3) Lomba menulis cerita rakyat berkisar cerita rakyat yang ada di daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Masing-masing mata lomba, peserta boleh mengirimkan maksimal 3 (tiga) karyanya yang ditulis tahun 2010/2011 + biodata singkat + foto,asli tidak saduran/jiplakan,belum pernah dipublikasikan di media cetak/internet atau sedang diikutkan pada lomba yang lain dibuat dalam surat pernyataan.
Untuk lomba puisi, panjang puisi maksimal dua kwarto dan untuk lomba cerpen dan kisah rakyat 4-7 kwarto, font 12 times new roman diketik satu setengah spasi.
Naskah masing-masing lomba sebanyak 4(empat) rangkap dimasukkan ke dalam amplop, di sudut kanan atas amplop ditulis jenis lomba yang diikuti dan sudah masuk ke panitia melalui post atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kabupaten HST di Barabai Jl.H.Abdul Muis Redhani Kelurahan Barabai Timur Kec.Barabai Kab.HST atau kirim ke email fahmi.wahid64@yahoo.co.id, selambatnya 30 Juli 2011.
Hadiah-hadiah sbb :
1) Lomba cipta puisi dan menulis cerpen bahasa Indonesia :
Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III dari masing-masing mata lomba akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan.( Rp 2.000.000, Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000. Rp 500.000, Rp 400.000 )
2) Lomba menulis cerita rakyat :
Pemenang I,II,III dan harapan I,II,III akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan ( Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000, Rp 600.000, Rp 500.000, Rp 400.000 )
Pemenang I sampai harapan III dan yang dipilih masing-masing mata lomba akan di antologikan.
4. Khusus lomba Pagelaran Sastra :
Setiap Kabupaten/Kota dapat mengirimkan satu kelompok maksimal anggotanya 12 (dua belas orang) yang teridiri dari pemain,pemusik dan krew.
Yang dipergelarkan memilih salah satu cerpen yaitu :
a. Bunglon karya Anton Cekov
b. Lurik karya Hasan Al Banna
c. Lukisan Angsa karya Fakhrunas MA Jabbar
d. Buaya Putih karya Ajamudin Tifani
e. Sanja Kuning karya Sandi Firly
Durasi penampilan maksimal 15 menit.( diluar pengaturan setting )
Hadiah : Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III akam mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan masing – masing Rp 5.000.000, Rp 4.500.000, Rp 4.000.000, Rp 3.500.000, Rp 3.000.000, Rp 2.500.000,-
Disamping lomba Panitia juga mengharapkan partisifasi penyair yang berdomisi di wilayah Kalsel untuk mengirimkan karya puisinya sebanyak 3 (tiga) puisi + bioadata singkat + foto yang akan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi. Karya puisi dimasukan dalam amplop dan di sudut kanan atas amplop ditulis Antologi Puisi dikirim melelui post atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kab.HST di Barabai Jl.H.Abdul Muis Redhani Kelurahan Barabai Timur Kec.Barabai Kab.HST atau kirim ke email fahmi.wahid64@yahoo.co.id, selambatnya 30 Juli 2011
Yang belum jelas silakan kontak person 081351128514 / 081348120891

Salam Sastra
Panitia Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Barabai HST

PUBLIKASI, DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR 3 KOTA

SAHDAN. Saat wisata budaya di Pulau Penyengat Kepulauan Riau dalam rangkaian Temu Sastrawan Indonesia III, usai kapal merapat di pelabuhan dan disambut wanita-wanita berkompangan memukul rebana, secara spontan saya (DAM) berseru “3 DIMENSI” (maksudnya 3 penyair berawalan huruf D–Diah Hadaning, DAM, dan D Kemalawati) sembari berjalan beriringan di antara batang-batang ilalang yang baru saja ditebang. Diah Hadaning mengerti maksud seruanku lalu berkata memaknai 3 D sebagai DETAK DALAM DJIWA, lalu D Kemalawati menyebutnya sebagai “sejarah” yang harus diabadikan. Kami bertiga di perjalanan wisata budaya itu lantas bersepakat untuk mengabadikan karya ke dalam sebuah buku, biar Lapena yang menerbitkannya. Nanti buku itu kita launching di Banda Aceh, Jambi,dan Jakarta. Baca selebihnya »

Cerita Mini (Cermin): GENANG KENANGAN

oleh Dimas Arika Mihardja

Kesan kunjungan, kunjungan yang berkesan. Begitulah, keluasan hati dan uluran tangan kebersamaan pada akhirnya menautkan juiga sebagian impian. Impian yang belum terkuak ialah bersama Tuan Djazlam Zainal di Jambi dan bersama di hajat pernikahan putra perdana Tuan Djaslam Zainal-Rosmiaty Shaari di Melaka. Akar budaya dan tradisi Melayu akan tumbuh dan mencengkeram tanah amanah. Kita sama-sama merindukan genang kenangan, saat terbayang tuan Djazlam bersila di atas ranjang menulis dan menulis sembari melupakan kumis dan janggutnya yang kian memanjang. Di dalam satu ranjang, segalanya mengambang dan menggelombang menjadi lorong-lorong kenangan. Baca selebihnya »

Puisi : Patung

Arsyad Indradi

Patung

Tubuhnya
Layaknya gelombang laut, buncah gunung api
badai gurun
Tapi aku cuma diam

Mengapa kau simpan ruhmu padaku
Oh maha jahanam
Terajallah sudah riwayat ujudku

Aku cuma diam
Sebab aku sudah tidak sudi lagi
mendengar keluh kesah dunia ini

Batam,2009

 

Puisi : Nalam Buat Yessika

 

Arsyad Indradi

Nalam Buat Yessika

Adakah lebih sanggama dari putik bunga
Dari kupukupu beribu warna
Kelopak romansa aroma semarainya
Tapi tibatiba jadi terbang kepak melayanglayang
Taman sukma jadi bayangbayang

Sejak kita di beranda itu Yessika
Kita pun tak pernah mampu menutup rawi kita
Yang tak habis ditulis dendamnya rindu
Saat berkaca pada jatuhnya tetes airmata
Yang selalu luput menafsir bahasa cinta

Sui Lan bisikmu lalu menatap cakrawala
Siapa meniti awangemawan yang berarak
Hatiku berkacakaca :
Duhai dua jiwa satu raga, satu jiwa dua raga
Tangan kita erat bergenggaman

Lalu kita pun melabuh sampan
Dari Barito dari Batanghari
Lalu kita dendangkan nalam kita :
( Sui Lan ) : Tebing mana menyimpan selaksa duka
Seloka luka
Kayuh bersimpuh
Mencari kemana riak arus pupus
( Yessika ) : Karang mana menyimpan selaksa duka
Seloka lara
Rindu yang luruh
Mencari kemana tempat berteduh
( Sui Lan ) : Barito mengalirkan dalamnya anganangan
Sungai tak ada lagi persinggahan
Putri junjung buih bermandi buih
( Yessika ) : Batanghari mengalirkan dalamnya impian
Sungai tak ada lagi tepian
Putri mayang bermandi mayang

Konon sampan itu Yessika masih juga berlabuh
Seperti tiada pernah sangsi mencapai muara ”DAMAI”
Aku masih ingat sayang kau menarik napas panjang

kssb,2 Jan 2011

(”DAMAI” = Dimas Arika Mihardja –Arsyad Indradi)

Merapi Meletus

Arsyad Indradi

Merapi Meletus

Meletusnya merapi
Ajab bagi yang menafikan asrarmu
Bumi digoncang tipisnya iman
Kami tafakur dalam Ar Rohman Ar Rohim

Tak ada yang mampu menampung
semburan lahar, api, asap dan debu
kecuali cintakasihmu
Tuhan hati kami gemetar menyerumu
Pihakkan kami dalam ridhomu

kssb,2010

PELUNCURAN NEGERI ANGSA PUTIH


Diam-diam Jambi terus hangat dalam kegiatan sastra. Selusin penyair berhimpun dalam satu antologi, meluncurkan karya puisi mereka bertajuk Negeri Angsa Putih. Launching yang dimeriahkan oleh pementasan Teater Tonggak dan Teater Air dengan artisrik garapan Daya Kreativitas Insani, menunjukkan berapa insan seni di Jambiberjalan seiring dalam keindahan silaturrahmi. Baca selebihnya »

Sajak Tato A Setyawan

sajak; telah kau tulis banyak larik puisi dari buih ombak pantai Pagatan
(untuk arsyad indradi)

pada pantai yang mana lagi kau larung puisimu
sedang beribu buih telah kau pungut
kau anyam serupa temali tasbihmu
kau bentangkan serupa nagara yang luas di sajadah

aku tau, telah kau tulis banyak larik puisi dari buih ombak pantai Pagatan
ia perihal rindumu yang meluas luas
pada batang cemara
pada kayuh perahu nelayan
pada kanak kanak yang senantiasa menjala mimpi ketika senja pulang

(hanya selembar surat dengan sebaris janjimu yang kurawat hingga kini; “aku rindu pantaiku. yang tiap butir pasir kugambar di telapak tangan. kelak akan kujemput pantaiku yang abadi, karna di sanalah kecintaanku padamu”, katamu)

lalu, masa perjumpaan menjelma suara
menjadi kenangan

riuh percakapan kita yang hilang menyua di pantai
pantai Pagatan yang ia tiada lupa, tiada ingkar
pada puisi kita yang semakin tua
dengan tiap hurufnya meletup letup di dadaku

batulicin, 13 jan 2011

Lima Puisi Romantis Dari Facebook (5)

oleh Ramayani Riance
Perempuan Pemecah Ombak

Ia seperti batu karang yang berdiri tegak menatap lautan
tenang menjaga merdu bumi di deru gelombang ombak
terik waktu memercikkan keluasan samudra di dadanya

Ia bertapa di riuh waktu meluluhkan segala kekerasan
menjaga daratan dari bengis ombak oleh doa doanya
suaranya sayup di pertapaan waktu yang tak beranjak
Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.