Suara Hati Sanubari Penyair

(Sobron & Asahan Aidit)

Catatan dari Brussel (23)

A. Kohar Ibrahim

DALAM kumpulan tulisan bersama “Ziarah” tiga bersaudara Aidit, hanya termuat cerita cerita pendek Sobron Aidit. Karena memang Sobron itu yang terutama dikenal sebagai prosais. Namun selain itu dia juga dikenal sebagai penyair. Terbuktikan sejak awal tahun 50-an abad lalu dengan sajak-sajaknya yang termuat dalam kusajak “Ketemu di Jalan”. Suatu kumpulan sajak bersama dua sahabatnya sesama penyair: Ajip Rosidi dan SM Ardan, terbitan Balai Pustaka 1955-1956. Yang baginya, persahabatan yang terabadikan itu sangat mengesankan. Sampai beberapa dasa warsa kemudianpun masih bisa dirasakan dalam sajaknya berjudul “Surat Sahabat”, tersunting dalam kusajak Puisi, Kreasi nomor 11 1992:

(Buat Ajip Rosidi)

Mau pulang ke kampung halaman
tapi tak berumah
kembali dari kerja sehari-hari
tapi kamar sepi, isteri sudah lama pergi
deringan tilpun sudah tak menarik
karena sudah kian berat beban di pundak
lalu kemana membawa diri?
termangu di tepi tungku
dengan dada sarat oleh rindu.

Lagi-lagi kubaca surat seorang kawan
bukan, bukan surat
isi hati setiakawan
yang jauh dari pada dendam
yang rela berbagi kesedihan
walau sepuluh ribu batu terpisah
dijembatani kertas bersurat
hati yang beku menjadi sedikit hangat
kuukir-lukiskan persahabatan tulus
karena pesannya sungguh seharga emas
agar tak lupa kepada-Nya.

Termasuk diri mengenang waktu lalu
mungkin inilah gerbang
mungkin inilah pintu
untuk kembali ingat kepadaNya.

Tak syak lagi, sajak tersebut ditulisnya setelah menerima surat dari salah seorang sahabat lamanya yang dulu “Ketemu di Jalan”: Ajip Rosidi. Seorang penyair yang memang kemudian “bersimpangan jalan” secara politis-ideologis. Meskipun demikian dan meskipun lama telah berpisahan tempat tinggal, namun ternyata tetap memelihara semangat hubungan persahabatan. Dan terasa sekali betapa pengaruh sentuhan sang penyair yang alim beriman Ajip pada alam rohaniah Sobron yang pada dasarnya juga beriman. Apa pula kalau sudah menyentuh hal ihwal yang berkaitan erat dengan batiniah lainnya, seperti yang berkenaan dengan isteri yang sudah berpulang ke alam baqa.

Suasana alam batiniah yang dituangkan Sobron dalam sajaknya itu bisa saya segera maklumi, karena dalam periode tertentu pernah sama-sama tinggal di suatu tempat permukiman yang sama. Di salah satu bekas tangsi Tentara Pembasan Rakyat kota Nanking. Maka, tiap hari ketemu di anatara empat tembok, kiranya bisa saya kenallah bagaimana kehidupan kekeluargaannya. Bagaimana kasih sayangnya pada keluarga, pada isteri dan anaknya pernah saya saksikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Sikap Sobron tentulah tak lepas dari hasil didikan orangtuanya. Yang tercemin dalam sajaknya berjudul “Aku dan Ibu” yang ditulisnya tahun 1981:

Ibu,
belasan tahun aku menanggungkan rindu
terasa tanganmu membelai dengan kasihnya
lembut sejuk
bagaikan hujan menyirami bumi
yang berbulan bertahun diharapkan petani.

Ibu,
kukenang cintamu yang tanpa batas
dan betapa aku telah menyakiti hatimu
ketika kecil nakal dan kau menangis
namun kubenamkan kepalaku di pangkuanmu
terasa jatuh butiran mutiara lembut
dari pelupuk mata yang bagaikan laut
luas dengan rasa kasih sayang.

Ibu,
puluhan tahun berlalu
padaku kau ada selalu
berfikir di hati tua ini
bagaimanakah membalas budimu
yang begitu luhur
cinta kasih luas tak terbatas?

Dalam hal bagaimana Sobron menyuarakan hati, kita bisa temukan dalam berkas berkas sajak lainnya. Salah satunya seperti termuat dalam kupuisi bersama “Di Negeri Orang” (hlm 163) yang berjudul “Tanjung Priuk”:

Tumbuhan lalang merebah melambai
berdesir pasir mengulum senyum
dan mengalun riak-riak pantai
sedang angin laut deras mendarat.

Nelayan dan bujang ini
hilang rasa kembara di hati
mentatap pasti perasaan damai
dan perasaan gundah menyemai.

Ya, Halilah gadis pantai
menyemai di hati bujang risau
memagar erat menambat kalbu!

Ya, Halilah gadis Tanjung
Halilah gadis laut mengimbau
La Ilah! tumbuh di hati ini bunga biru!

Tak bisa disangsikan, bahwasanya sajak tersebut ditulis setelah Sobron Aidit sempat menginjakkan tapak kakinya kembali ke tanahair. Dalam upaya untuk bisa melaksanakan niatnya berziarah. Sekalian mencoba kembali untuk kelayaban pula sebagai seniman dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Maka, sebagai penulis yang cukup produktip, kepulangannya itu juga telah mendorong semangatnya untuk berkreasi. Selain menulis baris-baris puitis, terutama sekali kreasi yang prosais.

JIKALAU Si Abang terutama sekali dikenal sebagai penulis prosa, maka adiknya, Asahan Aidit dikenal sebagai penyair. Meskipun dia pun menulis cerita pendek dan roman. Diantara para penyair eksil Indonesia yang berkas-berkas tulisannya selama di mancanegara sempat saya simak, Asahan boleh dikata merupakan penyair yang paling kuat, sensitip dan oleh karenanya paling mengesankan. Kuat dalam pengungkapan tema, sensitip dalam kebeningan hatinurani dan kecerahan alam pikiran. Hal mana bisa dirasakan sekalipun hanya dalam berkas sajaknya yang berjdul “Ziarah” yang termuat dalam kumpulan tulisan dengan judul serupa itu.

Seperti dikethaui, Asahan Aidit dilahirkan di Belitung pada tahun 1938. Pendidikannya? Hingga 1961 di fakultas sastra Universitas Indonesia Jakarta. Pada tahun 1966 menamatkan studinya di fakultas filologi di Moskow dan mendapat gelar M.A. Tahun 1975 mempelajari bahasa dan sastra Vietnam di Universitas Hanoi dan pada tahun 1978 membela disertasi dan mendapat gelar Ph.D.

Kreativitas seninya? Asahan mulai menulis pada usia 14 tahun. Diantara tulisannya ada yang dimuat dalam majalah-majalah: Waktu (Medan) 1954-1956, Mimbar Indonesia (Jakarta) 1955, Merdeka (Jakarta) 1955, Sunday Courier (Jakarta) 1954 dan di beberapa ruang kebudayaan surat kabar Jakarta dalam tahun-tahun limapuluhan.

Dalam tahun sembilan puluhan, seperti sejumlah penulis eksil lainnya, Asahan termasuk yang paling rajin mengisi majalah-majalah yang saya edit seperti Kreasi dan Arena. Kemudian, pada tahun 2000, untuk penerbitan versi baru Kreasi dia berfungsi sebagai ketua dewan redaksinya. Sekalipun hanya bisa menerbitkan beberapa nomor saja.

Berkas-berkas prosa dan puisinya tersunting di beberapa kumpulan tulisan bersama. Seperti, selain “Ziarah”, yang lainnya berupa kumpulan sajak bersama “Puisi”, Kreasi nomor 11 1992; kumpulan tulisan “Kritik dan Esai”, Kreasi nomor 14 1993; kucerpen “Kesempatan Yang Kesekian”, Kreasi nomor 26 1996; kupuisi “Yang Tertindas Yang Melawan Tirani” (1), Kreasi nomor 28 1997 dan yang ke-2, Kreasi nomor 39 1998; “Di Negeri Orang” Puisi Penyair Indonesia Eksil, edisi Amanah Lontar Jakarta dan YSBI Amsterdam 2002. Sedangkan buku-bukunya adalah berupa kusajak yang saya edit, berjudul “Perjalanan Rumah Baru”, Stichting ISDM Culemborg 1993; “Menangisi Viet Tri, PT Dunia Pusaka Jaya 1998 dan tahun 2001 oleh penerbit yang sama sebuah roman berjudul “Perang dan Kembang”.

Sebelum memulai menikmati sajian hasil karya puisinya berupa sajak berjudul “Ziarah” yang monumental itu, saya kira ada baiknya kita perhatikan beberapa sajak Asahan sebelumnya. Sayak-sajak yang mempertandakan kepekaan atau kepeduliannya akan hal ihwal manusia, terutama sekali yang juga merasakan kepedihan hati seperti kepedihannya sendiri sebagai insan yang manusiawi. Seperti seberkas sajak-sajaknya yang tersunting dalam kupuisi bersama “Puisi”, Kreasi nomor 11 1992, yang diberinya judul “Sajak Sajak September”.

Terasa sekali jelujur benangmerah kepedulian sekaligus suasana blues yang menghantui hati dan pikirannya berkenaan dengan bulan yang sarat akan kenangan malapetaka yang melumpuh-binasakan sebagian umat manusia di kawasan Nusantara. September Biru. Bahkan September Hitam dalam sejarah Indonesia mupun dunia. Yang dampak nistanya berlarut seraya menjalar liar di seluruh Nusantara bahkan sampai ke mancanegara.

Bahkan, dalam suasana “pesta makan dan anggur” pun masih dibayang-bayangi kegelisahan akan masih adanya “hukuman dan benda-benda lainnya / termasuk kenangan indah yang menyiksa / pelajaran terakhir dari hidup ini” (hlm 12). Lalu simak suara hati sanubari Asahan yang diungkapkan dalam sajaknya “Kenangan Selanjutnya” (hlm 13): “Sejak kepergianmu / Kau telah berubah menjadi sajak / Dan aku menjadi pemberontak / Menembaki sepi dan mimpi.”

Sajak selanjutnya berjudul “Aku Bayangkan Kau” sangat menggugah hati saya, bukan hanya dalam menikmati baris-baris puitisnya namun dalam turut hanyut dalam bayang membayangkan pula. Membayangkan sesosok tokoh pemuda yang tinggi tegap tetapi begitu lembut dan fragile hatinya yang kemudian telah memasuki alam rembang petang. Namun ingatannya masih segar oleh keindahannya sendiri.

Aku bayangkan kau itu indah peramah dan pendiam / Mungkin karna aku sudah jauh darimu / Kurindukan kau itu masih seperti dulu / Kerna kau adalah kelezatan / Pelepas nafsuku penembus kehampaan / Tapi teman-teman yang di sana kulihat miring-miring tulisannya

Dan aku lalu mengerti / Kau sudah lama bukan perawan / Tamu-tamu sopan berdatang silih berganti / Dedauanan jadi kering dan mati / Masih bisakah kita bicara tentang cinta / Orang-orang baik masih menyanyikan kenangan rindu / Bukan tanpa kasihan / Bila aku datang akan bisakah aku merawatmu / sedang aku sudah begini lelah dan tua / Kuharap kau bisa hamil dan melahirkan.

Lebih jauh Asahan mengungkapkan suasana alam terorisme yang menguasai Nusantara segera setelah terjadi September Hitam dan yang berkembang menjadi budaya ketakutan, seperti dalam sajaknya “Orangorang Yang Boleh dan Tidak” (hlm 14) :

Orang-orang yang boleh bicara / Orang-orang yang bisa bicara / Orang-orang yang takut bicara / Orang-orang yang terpaksa bicara / Orang-orang yang tukang bicara / Bilang: / Mereka pembunuh / Orang-orang yang tidak bisa lagi bicara / Orang-orang yang tak boleh bicara / Orang-orang yang tak diharapkan bicara / Bilang: / Tak terdengar suara / Karna mereka sudah dibunuh / Karna mereka sudah disiksa / Karna mereka sudah dibuang / Bicara. Cuma bicara / Dunia bisa dibalikkan / Berjuta insan merintih / Tertindih kegelapan / Mengapa harus demikian / Karna memang tak ada pertarungan / Yang ada perkosaan.

Ketika menulis baris baris kata puitis tersebut, Asahan bukan lagi berandai-andai, melainkan mengungkap realisma seraya menegaskan, bahwa peristiwa tragedi yang mengerikan itu bukanlah karena adanya pertarungan, melainkan perkosaan belaka, nyaris pasrah begitu saja. Suatu perkosaan yang brutal, tanpa ampun, karena pemerkosa menggunakan ujung bedil yang memuntahkan peluru. Yakni “Serdadu-serdadu penembak dekat / Serentak berbaris lalu berhenti / Serentak menembak lalu kembali / Korbannya tertutup mata ada yang tidak / Nyawanya terbang melompat ke jurang / Karna Tuhan juga enggan menerimanya / Karna dilanggar kuasanya / Nyawa-nyawa itu tak menjadi roh-roh / Suka membukai pintu-pintu rumah / Menawarkan dendam dan pembalasan.”

Demikian diungkapkan Asahan tentang orang-orang yang “diperkosa” dan “pemerkosa”nya dalam sajaknya berjudul “Juru Tembak dan Para Korban” (hlm 14). Suatu tragedi yang pernah terjadi di arena Nusantara. Yang mempertandakan watak kekuasaan dan penguasa jenis apa yang tengah mengangkangi kawasan negeri kepulauan ini. Yang kelangsungannya cukup lama sampai berdasa-dasa warsa. Yang selalu mengancam, bukan saja generasi yang lebih tua atau semacam Asahan, namun juga generasi baru. Seperti yang diwakili oleh seorang penyair Wiji Tukul.

Ketika sang penyair muda tapi cepat menjadi dewasa dan besar itu pun mendapat giliran terkena ganjaran sang penguasa angkara murka, tak ayal Asahan menulis baris-baris puitisnya berjudul “Wiji yang di Tukul.” Sebagai pernyataan suara hati sanubarinya, simpatinya. Bersimpati karena merasa senasib, baik sebagai manusia maupun sebagai penyair, yang sama-sama kehilangan kebebasan dan harga diri. Hilang dirampas dan diinjak-injak sang penguasa demi menegakkan dan melanggengkan serta mendemonstrasikan arogansinya. ***

Catatan :
Naskah CdB (23) pertamakali disiar edisi cetak & online Harian Batam Pos 14 Juli 2003. Disiar ulang Situs Sastra Nusantara Cybersastra 7 Maret 2004. ABE-Kreasi Multiply Site 27 Februari 2007; juga situs lainnya seperti Bekasinews, dan lainnya lagi.
Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/links/item/120/
Disiar ulang di Facebook 25 April 2010 untuk menemukan pembaca lebih banyak dengan harapan bisa dijadikan bahan pertimbangan adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: