Jambi Di Mata Penyair ( 2 )

JAMBI EKSPRESS ONLINE / 23 Desember 2008

Respons rekan-rekan penyair sungguh luar biasa. Tercatat 34 penyair dari seluruh penjuru tanah air mengirimkan karyanya.
Di dalam perspektif penyair, Jambi tampil beraneka warna dan menyediakan berbagai ragam sudut pandang dalam ekspresi. Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini dapat dipandang sebagai semacam “buku putih” tentang lanskap kota bernama Jambi.

Penyair Afrion (Medan) menampilkan hasil impresinya mengenai perjalanan menyisir Batanghari ke dalam dua puisinya, masing-masing berjudul “Batanghari” dan “Jambi”. Di mata batin Afrion, Jambi dipersepsi dengan diksi seperti ini: “di tanah menakjubkan itu/ kita menghabiskan waktu mengubah kenangan/ lewat tengah hari di atas tanah hitam”“di pucuk jambi sembilan lurah/ kulabuhkan rahasia tanah moaro/ tanah candi dihuni legenda purba/ berabadabad lama/masa lalu/ jatuh/sepuluh daun sepuluh tetes air/ mengetuk mantra takdir kubur /pada waktu angin menderu/menusuk celah batu/ aku memanggilmu” (“Jambi”). (“Batanghari”) atau ungkapan seperti ini:
Ahmadun Y. Herfanda, penyair Jakarta yang juga ketua Komunitas Sastra Indonesia dan Redaktur Budaya Republika menyertakan dua puisinya. Dua puisi Ahmadun juga melukiskan impresinya tentang Jambi. Dalam impresi Ahmadun, Jambi dipersepsi sebagai subjek yang berkali-kali merindu dan memanggil penyair untuk datang bertandang: “Jambi merinduku kembali/ Bersama aroma rambutmu/Yang tertinggal di pipi kiri/ Ya, kutahu, muaro di tanganmu/Anginnya selalu sampai di sini…. Kutahu, Jambi merinduku kembali/ Sebab kerling matamu/ Terbawa sampai di sini” (Jambi”). Ahmadun tampaknya terkesan dan suasana hatinya riang, sebab : “Ada yang bersenandung di tangkai sunyi/ Riak air batanghari. Ikan-ikan berkecipak sendiri/Menimbun muaro yang terserak di tepi kali/Serasa aku ingin menari bersamamu/Menyusur riwayat hingga ke hulu” (“Senandung Batanghari”).
Ali Syamsudin Arsi (Penyair Banjarbaru, Kalimantan Selatan) menyertakan 3 puisi panjang, masing-masing “Meniti Jejak di Puing-puing Candi”, “Bersama Leak”, dan “Gumam Kepada Dimas”. Lewat puisi, Ali Syamsudin Arsi (ASA) menyeru: “oi, arus menghela di batanghari/batanghari batanghari oi oi batanghari/oi gema tersangkut di batanghari/ batanghari batanghari oi batanghari/oi derap menyingkap di batanghari/ naik ke tebing meniti jejak di puing-puing candi” (“Meniti Jejak di Puing-puing Candi”). ASA juga memotret kebersamaan dengan penyair lain, antara lain dengan Sosiawan Leak (“Bersama Leak”) dan bersama Dimas Arika Mihardja (“Gumam Kepada Dimas”). Kebersamaan dalam proses kreatif, diskusi, debat, dan canda di warung-warung kopi dan di lobi hotel tampaknya dapat direkam dengan baik oleh ASA. Dia melalui puisi “Gumam Kepada Dimas” antara lain menyatakan: “Aku tidak ingin engkau ikut latah berkepanjangan. Celotehmu. Seperti selimut yang menggulung dalam lipatan waktu. Matahari, atau apa saja, sama dengan harum kulit-kulit buah durian. Pisang dan nenas, kulitnya berhamburan. Atau gula tebu yang habis terkuras di pajangan di pinggir-pinggir jalan….”.
Arsyad Indradi (Penyair gaek dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan) menyertakan 3 puisi yang secara metaforis melukiskan lanskap waktu yang harus diisi dengan karya, usaha, dan doa. Ia memilih diksi “malam” dan “pagi” untuk melaratkan doa-doa, karya dan usahanya sebagai manusia paripurna: “Mengapa aku memilih malam menemuimu/Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku… Berkali-kali aku datang padamu/Agar aku kaulahirkan kembali/ Merindu tangisan bayi/Yang tak pernah dusta menyerumu” (“Pintu Doa”). Bagi Arsyad, “Pagi tak sempurna. Menatap pintu langit/Siapa berlari berbasah perih di sana? (“Reruntuhan Hujan”), “Aku kehilangan arah// Kehilangan katakata ketika mentari rebah/ di semua langkah. Tapi aku tak mau hidupkehilangan makna/terus berlari. Menembus angin// Memburumu sampaibatas ajal” (“Reruntuhan Pagi”).
Asep Samboja (penyair dan Akademisi Universitas Indonesia) menyertakan sebuah puisi yang lebih mengaksentuasikan pesannya kepada penyair Jambi lewat puisinya “Kepada Penyair Jambi”. Setidaknya ada 12 nama penyair Jambi yang karya-karyanya diapresiasi oleh Asep Samboja dan bertolak dari apresiasinya itu dia lantas menyampaikan pesan-pesan yang secara halus dan kritis agar disikapi oleh penyair-penyair Jambi (Asro Al Murthawy, Chory Marbawi, Didin Siroz, Dimas Arika Mihardja, E.M. Yogiswara, F. Montana, Fakhrizal Eka, Firdaaus, Iif Ranupane, Iriani R.Tandy, Ramayani, dan Titas Suwanda).
Asrizal Nur, penyair dan deklamator handal dari Tangerang menyertakan dua puisinya, masing-masing “Kembalikan Nama” dan “Tak Dapat Melupakanmu”. Dua puisi Asrizal Nur secara impresif dan metaforis memberikan ingatan bahwa Jambi haruslah menjaga dan memelihara marwah Melayu, Jambi dengan situs candi Muaro Jambi tak perlu memimpikan Borobudur, sebab “syair pujangga lebih dulu/ memahat arca Melayu” (“Kembalikan Nama”). Meskipun Asrizal Nur bukan putra Jambi, ia tak dapat melupakan Jambi sebagai ranah Melayu: “Walau tak dari rahimmu/akulah anakmu/ secebis silsilah darah Melayu/ lalu kalian menuangkan air batanghari/ pada reguk kering/ bermuara rindu/ aku/ tak dapat melupakanmu” (“Tak Dapat Melupakanmu”).
Bambang Widiatmoko (penyair dan dosen dari Bekasi) menyertakan 3 puisi, masing-masing “Patung Tanpa Kepala, 1”, “Patung Taanpa Kepala, 2”, dan “Telago Rajo”. Kelebihan Bambang Widiatmoko ialah kemampuannya menuangkan antropologi perasaannya ke dalam diksi-diksi yang dipetik dari kearifan lokal. Ketika ia menulis tentang Jambi, Jambi divisualisasikan melalui diksi yang dipungut dari khazanah situs candi Muarojambi seperti tampak pada judul-judul puisinya. Bambang Widiatmoko juga punya kemampuan menyusun metafora yang di pungut dari realita. Ketika penyair ini penulis ajak jalan-jalan mengelilingi kota Jambi dengan mobil Mitsubishi Kuda berwarna merah, ia menulis seperti ini: “Kuda merah melonjak binal/ Saat membawaku berjalan/ Di jalanan yang tak pernah lengang// Matahari baru saja tenggelam/ Namun udara panas masih/ Terasa membakar dada//Mungkin Batanghari telah terluka/ Menghanyutkan sampan sampai muara/ Luka jiwa, Dewi Prajnaparamita tanpa kepala”“Perahu lalulalang menyusuri Batanghari/Tak mungkin mengembalikan abad yang pergi/Apalagi airmata, tak mungkin mengalir lagi/ Karena kepalaku telah ditelan bumi/ Dan tubuhku,biarlah menjadi saksi kejayaan Jambi”. (Patung Tanpa Kepala,1). Dalam puisi “Patung Tanpa Kepala, 2” Bambang Widiatmoko dengan cerdik membidik fenomena sejarah bahwa
Diah Hadaning, ibu penyair Indonesia menjalin 3 puisi khusus tentang Jambi. Mbak Diha, begitu Ia sering disapa, mengkreasi puisi-puisinya berdasarkan persepsinya tentang Jambi. Dalam puisi “Jambi Antara Pucuk dan Lurah” dinyatakan: “ berwindu kusimpan nama itu/hanya keajaiban terjadi temu/ ruhmu menyatu di stupa Muaro Jambi/simpan bebunga misteri/pucuk dan lurah telah menyatu/di tanah pilih/ telaganya angsa putih/tiba-tiba tereja Jambi/ Jalan Menuju Bumi Idaman”. Kesan magis tampil manis dalam puisi-puisi Mbak Diha. Mbak Diha tampaknya bisa berkomunikasi dengan “misteri” yang melingkupi kawasan candi Muaro Jambi sehingga dengan fasih dinyatakan: “Menjumpaimu wahai Sang Gaib di Muarojambi/saat maya menyatu/ada yang basah di garis wajah/kudengar parau keluhmu/alangkah sulit mencari damai/walau abad telah menikung/langkahnya menurut kidung/peradaban baru tanpa gung/ruang ramai yang suwung…” (“Muaro Jambi”). Secara tematis, puisi-puisi Mbak Diha ini selaras dengan 3 puisi Dinullah Rayes. Dinullah Rayes (Penyair sepuh dari Sumbawa) menyertakan 3 puisi yang masing-masing bertitel “duh jambi”, “Muara Jambi”, dan “Kota Jambi”. Puisi-puisi Dinullah Rayes menunjukan keluasan pengalamannya sebagai penyair yang telah berpuluh tahun menekuni kerja menyair.
Dimas Arika Mihardja (Jambi) lebih menampilkan refleksi atau introspeksi tentang kearifan lokal Jambi melalui 3 puisinya, masing-masing berjudul “Silsilah Tanah Merah”, “Tanah Pilih Pseko Bertuah”, dan “Narasi Seluwang”. Secara metaformosis, marwah Melayu yang aktualisasinya terepresentasi melalui situs percandian Muaro Jambi akan tetap abadi, sebab selalu ada yang memelihara, membina, dan mengembangkannya ke arah yang lebih baik. Dalam bahasa puitis hal itu diungkapkan Dimas Arika Mihardja dalam dua sajak, yakni “Tanah Pilih Pseko Bertuah” dan “Silsilah Tanah Merah”: “tersusunlah silsilah: darah/ya, darah melayu netes ke dalam sajak/membiak sepanjang jejak/ peradaban/sebab melayu takkan hilang di bumi/takkan lenyap di sepanjang abad” (“Silsilah Tanah Merah”).
Doel CP Allisah (Nangroe Aceh Darussalam, Ketua Aliansi Sastrawan Atjeh) menyumbangkan 2 puisi, masing-masing “Impian Melly (Ode Batanghari)” dan “Prosesi Dukalara”. Dalam Impian Melly (Ode Batanghari) ia menulis begini: “baru saja kamu memberiku sebuah mimpi/ (dalam kamar hangat) seperti cleopatra, tubuhmu berpeluh dalam birahi/ Lalu jendela ini selalu saja terbuka dan angin yang pasti berhembus/singgah di jemari”. Jambi, yang tampil lewat sosok Melly, dikesankan sebagai gadis yang melankolis. Seorang gadis yang penuh dengan impian: “baru saja kamu memberiku sebuah mimpi”. Gadis itu, dalam persepsi Doel CP Allisah telah dewasa, siap menikah, dan mengasuh anak-anak masa depan: “engkau sudah dewasa kiranya/ semestinya menikah/ dan bersiap mengasuh anak-anak masa depan…”. Impresi seperti ini selaras dengan 3 puisi kiriman Edy Samudra Kertagama (Lampung) dengan 3 puisinya, yaitu: “Sajak Sepotong Mimpi”, “Episode Sebuah Kota”, dan “Rindu Tanah Lapang”.
Puisi-puisi Endang Supriadi (Jawa barat) berjudul “Fragmen Seekor Kupu-kupu”, “Fragmen Selembar Kupon”, dan “Hilang dari Segala Kenang”, puisi-puisi karya Hasan Bisri BFC (Jawa Barat) berjudul “Pertemuan di Padang Cinta”, “Jazirah Api”, dan “Bukit Api Cinta”, puisi-puisi Hudan Nur (Banjarbaru, Kalimantan Selatan) berjudul “Desis”, “Diam-diam Berubah Menjadi”, dan “Istirah Sepasang Malaikat”, puisi-puisi Jumari HS (Kudus, Jawa Tengah) berjudul “Rumah Cinta”, Di Tepi Sungai Aku Menemukan Cinta”,, dan “Keringat Berlayar”, puisi-puisi R. Hamzah (Banaten, Jawa Barat) berjudul “Gerimis Banten”, “Negeri 1001 Malam”, “Kisah-kisah Malam”, puisi-puisi gubahan Edi Sedyawati (Jakarta) berjudul “Bumi Yang Diam”, “Menunggumu”, “Di Sanakah”, dan “Menunggang Awan”, serta puisi-puisi Hasan Al Banna (Medan) semuanya lebih bertutur tentang hakikat dan kedalaman makna “cinta” dan “berserah diri”. Kita nukilkan baris-baris puisi dalam “Gurindam Batanghari yang Tertinggal di Saku Baju” (Hasan Al Banna): “Siapa empunya dada yang setia menjaga tungku janji,/ ialah ibu yang tak henti menyusui Jambi; siapa empunya pundak yang legam mengandung ngilu,/ ialah ayah yang selalu tabah menandu perahu…siapa empunya lidah yang melantunkan gurindam ini,/ialah aku yang telah meneguk secawan batanghari”.
Heri Maja Kelana (Bandung) setelah secara fisik mereguk air Batanghari ketika menaiki “Ketek” menyisir arusnya, berhasil menggubah puisi “Narasi Sebelum Senja di Tepi Sungai Batanghari”, “Di Atas Perahu, 1 dan 2”, dan “Perjalanan Penyair”. Dalam puisi pertama, ia menulis: “senja ini entah punya siapaa. Namun kata, cinta, aku telah temukan dari tepi sungai”… “suara-suara sungai membuatku gemetar (“Di atas Perahu, 1” … “diatas perahu/aku menyaksikan wajah batanghari/serta tarian angin yang ganjil/menyaksikan bocah-bocah/tanpa dosa” (Di atas Perahu,2), “syair-syairmu melantun menjadi doa ke angkasa/seperti perahu-perahu yang menemukan kampung halaman” (“Perjalanan Penyair”).
Husnul Khuluki (Tangerang, Jawa Barat) adalah penyair yang selain produktif juga kreatif. Kepenyairannya menunjukkan garis lurus menanjak ke pencapaian estetis sebagai buah pergulatan dan pergaulannya di tengah-tengah dunia kepenyairan. Dalam buku ini ditampilkan 6 buah puisinya, masing-masing berjudul “Di Candi Gumpung”, “Di Atas Batanghari”, Jambi”, Ke Lubuk Batanghari”, “Peri Batanghari”, “Ke Jantung Batanghari”. Capaian estetis Husnul Khuluki seperti tampil dalam puisi-puisinya dalam buku ini menandai adanya progres dari penyair buruh yang lugas ke arah penyair yang berkiprah di ranah kontemplasi. Capaian estetis ini juga tampak dalam puisi-puisi Setia Umbara (Lembang, Jawa Barat) berjudul “Di Masjid Al Falah”,”Melayanglah”, “Penyair Menabur Air”, “Di Tepi Batanghari”,, “Angso Duo”, “Arus Batanghari” dan “Hujan di Batanghari”.
Capaian estetis dan progres kepenyairaan juga tampak dalam puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS (Lampung), masing-masing bertajuk “Situs Silsilah”, “Buah Suluh”, “Angso Duo”, dan “Candi Kampung Muaro”. Kita simak sedikit nukilan puisi Isbedy Stiawan Zs: “ke pucuk langit kami pernah sampai/ meski kemudian tertimbun sejarah/setelah itu kembali kala kau gali/segubang manikam/ sampai juga tubuhmu tertikam!” (“Situs Silsilah”) “ayo,segera masuki kepompong/aku tak ingin berlama-lama kosong” “Angso Duo” secara khusus mengekspresikan dialog batiniah dengan penyair Ari Setya Ardhi (almarhum) dan puisi “Candi Kampung Muaro” yang didedikasikan kepada penyair Dimas Arika Mihardja, lebih mengekspresikan sikap Isbedy Stiawan ZS pada makna “seberang”, “kampung”, dan “tualang” bagi seorang anak lanang (laki-laki). Pemikiran reflektif dan diskursif seperti itu juga tampil dalam sebuah puisi panjang garapan Iyut Fitra (Payakumbuh, Sumatera Barat) berjudul “Tangga”. (“Buah Suluh”). Dua puisinya,
Jambi dalam persepsi penyair tampil utuh-menyeluruh-penuh nuansa. Lanskap kota Jambi, aalir Batanghari, dan kesan-kesan lain tampil dalam puisi-puisi Koko P Bhairawa (Lampung) berjudul “Tolong Ceritakan Padaku (Lagi)”, Di Pagi Minggu, Tiga Puluh Menit Sebelum Take Off”, dan “Sebelum Matahari Terbit”; tampil dalam 2 puisi M. Yunus Rangkuti berjudul “Mencari Jambi, 1” dan “Mencari Jambi, 2”; Kesan tentang Jambi juga terekam dengan apik di dalam 2 puisi Nur Ilmi Daulay (Medan) berjudul “ Batanghari, 5 hari di ranah 9 Lurah” dan “Rembulan 9 Lurah”; puisi Purhendi juga merekam kunjungannya ke Jambi dalam puisinya berjudul “Jambi 9 Juli”, “Pelajaran Menulis Esai” dan “Batanghari”; Wajah Jambi juga didedahkan 3 puisi Ramayani (Jambi) dalam puisi berjudul “Kegelisahan Sungai batanghari”, “Tuhan Membasahi Wajah dan Tubuhku di Wangi pagi”, dan “Simfoni”; puisi Tan Lioe Ie (Bali) berjudul “Berperahu di Batanghari”, dan puisi Suyadi San (Medan) berjudul “Di Tanah Pilih Kupilin Aliansi Kata-kata”.
Jambi tidak saja disorot dari sisi positifnya. Penyair yang diundang mengikuti Temu Sastrawan Indonesia, sebut saja Sosiawan Leak dengan puisi berjudul “Anak-anak Batu”, “Sajak”, dan “Ternyata Kamu” dan puisi-puisi Suharyoto Sastrosuwignyo (Pekanbaru) berjudul “Sebuah Geng Bernama Pemerintah Kota, “Malam itu”, dan “Kering” lebih menuansakan sikap mengkritisi realitas hidup yang taampak. Reaalitas yang tampak itu kemudian dijadikan pangkal tolak dalam menulis sajak yang bersifat kontekstual. Puisi kontekstual inilah yang menyeruak dari puisi penggiat “Sastra Pedalaman” ini. Dari realitas dapat dicatat mengenai lorong, warung, pasar, durian, sungai, candi, bangunan kota tua, kemacetan, antre BBM, jatuh cinta, geram, kecewa, kagum, terpesona, dan lainnya seakan menandai bahwa kota ini tidaklah sepi dari sejumlah masalah hidup dan kehidupan.
Orientasi Budaya: Menuju Post Traditional Society?
Sebagai fenomena, kita catat bahwa masyarakat Jambi memasuki tahap perkembangan yang disebut post tradisional society. Kita mencatat unsur-unsur modernitas yang menandai mentalitas masyarakat modern, seperti individualisme (sikap ”Siape lu, siape gua”), orientalisme terhadap kehidupan kota, fenomena kehidupan demokratis, dominasi media massa, dan mengutamakan mutu hasil karya.
Fenomena budaya individualisme, tahun-tahun belakangan ini dapat kita amati di berbagai sudut kota hingga ke kota kabupaten. Seperti Naga dari Selatan, Jambi menggeliat dengan pembangunan pesat di bidang investasi dan perdagangan, sehingga mall, mini market, plaza, hingga hipermarket berdiri menghiasi gambaran metropolis. Anak-anak jalanan bertubuh dan berpakaian bersih menadahkan tangan di Traffict Light, nenek renta susah payah menyeberang jalan di tengah keramaian kota (dan maaf, tidak ada lagi Pramuka/ Satpam/ polisi yang rela membantu), orang-orang yang tidak lagi peduli pada penderitaan orang lain, orang memanfaatkan musibah sebagai upaya mendapatkan sedekah (menolong korban tabrak lari, tapi yang lebih dulu diselamatkan adalah dompet dan perhiasannya), dan masih banyak lagi bentuk-bentuk individualisme di kota ini.
Gaya hidup orang kota kini menjadi trend centre bagi warga masyarakat. Semacam ada image bahwa orang metropolis haya hidupnya cenderung glamour, perlente, melengkapi diri dengan aneka asesoris mutakhir, dan membawa ikon-ikon ekonomi kretif dan efektif. Setiap orang merasa perlu menenteng Handphone atau telepon selular (meskipun terkadang tampak gagap teknologi). Gaya berpakaian modis (meski membelinya di loakan), mobilitas tinggi (meski terkadang hanya jalan-jalan di pusat keramaian dengan tujuan tidak jelas). Kita juga mencatat bahwa kemacetan lalu lintas mulai terasa di Jambi sebagai manifestasi gaya hidup urban-metropolis.
Dapat dicatat juga fenomena munculnya cultural lag, yaitu fenomena yang menggambarkan keadaan masyarakat yang dengan mudah menyerap budaya yang bersifat meterial, tetapi belum mampu untuk mengadaptasi budaya yang bersifat non-material. Fenomena persaingan dunia usaha telepone selular, aneka produk play statition, aneka game dan lambang prestise (membawa laptop) hanya untuk keperluan mode yang bersiafat musiman. Masyarakat hanyalah konsumen, user, yang hanya bisa memanfaatkan teknologi maju, tanpa dibarengi pemahaman karakteristiknya.
Reformasi 1998 di tahun 2008 membuahkan hasil masyarakat semakin kritis dalam iklim kehidupan yang demokratis. Namun, perilaku demokratis ini senyatanya belum menjadi bagian hidup masyarakat perkotaan. Contoh-contoh sikap kritis dalam bingkai kehidupan yang demokratis tampak dari berbagai unjuk rasa berbagai elemen masyarakat terhadap setiap akan dilakukan pengundangan Rencana Undang Undang. Kita masih ingat betapa lapisan masyarakat berssikap pro kontra terhadap sosialisasi Undang Undang Pornografi dan Porno Aksi, Undang Undang Badan Hukum Pendidikan; Lapisan masyarakat tertentu juga reaktif terhadap pelaksanaan PILKADA, sehingga timbul kesan ”Siap memang, tetapi tidak siap kalah”.
Hal yang menggembirakan (juga menyedihkan) dalam pranata kehidupan sosial post tradisionalis, media massa memegang otoritas dalam mengendalikan berbagai isue, pemberitaan, penciptaan opini, penciptaan trend centre, dan berbagai macam dampak positif maupun negatif yang mengirinya. Dalam masyarakat post tradisionalis juga ditandai oleh adnya penghargaan terhadap karya dan kekaryaan sebagai bagian dari kebudayaan dalam pengertian yang luas dan kompleks.
Kebudayaan merupakan manifestasi keseluruhan sistem gagasan (ideas), tindakan (activities), dan hasil karya (artefact) manusia. Sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia itu dalam dinamikanya membentuk sistem budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah peradaban manusia. Sistem budaya ini terjalin erat dengan nilai-nilai yang dikonstruk oleh budhi dhaya manusia. Nilai-nilai budaya ini tidak lain merupakan konsep-konsep yang hidup di alam pikiran sebagaian besar warga masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi ke arah kehidupan lebih baik.

*) Penulis adalah akademisi, minoritas kreatif, dan pelaku budaya
Masukan ini dipos pada Januari 15, 2009 11:44 pm dan disimpan pada INDONESIA KITA . Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.

Dari :http://aliansisastrawanaceh.wordpress
Aceh Literary Aliance,NAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: