Sekilas tentang Penyair Gila Arsyad Indradi dan Secuil Sajak Religiusnya

Oleh : Mahmud Jauhari Ali



</div

Penyair yang satu ini telah lama saya kenal dengan rambut panjangnya yang aduhai menawan hati. Bersama lima belas seniman Kalimantan Selatan lainnya pernah dipenjara kerena melawan pemerintah. Sejak tahun 1970-an awal hingga sekarang, penyair yang bernama lengkap Muhammad Arsyad Indradi ini masih setia dengan dunia kepenyairan lokal maupun nasional. Bahkan tak cuma itu, surat kabar Cina pun sempat memberitakannya di sana.

Pemberitaan itu berkaitan dengan buku 142 Penyair Menuju Bulan yang dibuat dan diterbitkannya sendiri serta menyebarkannya di seluruh nusantara. Buku itu memuat puisi-puisi dari 142 penyair di Indonesia, termasuk sajak Sutardji Calzoum Bachri ada di dalamnya. Dan yang paling mencengankan adalah, biaya pembuatan hingga penyebaran buku itu berasal dari penjualan sebidang tanah kesayangannya. Karena itulah ia disebut sebagai penyair gila. Penyair yang benar-benar loyal pada dunia kepenyairan dan menempatkan puisi sebagai bentuk caranya mengagungkan Tuhan dan juga untuk kemanusiaan.

Tadi pagi saya temukan sebuah sajak miliknya yang menurut saya perlu ditanggapi dengan sebuah esai.

Narasi Ayat Batu

Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit
Yang terhampar di sajadahku
Kujatuhkan di tebingtebing lautmu
Cuma gemuruh ombak dalam takbirku

Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah
Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu
Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih

Kuseru namamu tak hentihenti
Di ruasruas jari tanganku
Yang gemetar dan berdarah
Tumpahlah semesta langit
Di mata anak Adam yang sujud di kakimu

Ayat Batu. Ayat? Batu? Menjadi sebuah frasa? Jika kita cari di saentero ini sungguh tak pernah ada frasa itu. Kata “ayat” kita kenal sebagai firman Illahi berupa kata-kata yang menjadi pedoman bagi manusia yang bertuhan. Sedangkan “batu” termasuk benda padat yang keras. Lalu apakah ini simbol dari ayat yang sukar dicerna (mutasyabihat) ataukah ayat yang sukar diamalkan karena jiwa belumlah bersih? Bisa juga itu menyimbolkan ayat-ayat Tuhan yang hebat. Tapi, yang terakhir tadi sulit diterima akal karena kata “batu” tak cukup untuk menjadi simbol kemahadahsyatan ayat-ayat Tuhan yang tak serupa dengan hanya puisi buatan manusia.

Namun setelah membaca bagian pembukanya, “Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit”, jelas bahwa Ayat Batu itu merupakan ayat-ayat Allah yang sulit diamalkan manusia yang mengaku muslim. Yang juga menadakan bahwa ayat-ayat Allah hanya dapat diamalkan di puncak pengetahuan dan iman yang tinggi/naik. Kita tidak dapat mengamalkannya jika kita tak mengetahui maksud dari ayat-ayat Allah itu. Kita juga tak bisa menjalankan ayat-ayat Allah jika iman kita turun karena godaan yang begitu hebat menerpa kita. Puncak di sini adalah tingkatan iman dan pemahaman ayat-ayat Allah pada diri kita. Tanpa iman kita tak akan pernah meyakini kebenaraan nash Alquran. Dan jika kita hanya bertaklid buta tanpa ilmu atas isi Alquran itu sendiri, kita tak maksimal beribadah (ikut-ikutan). Inilah menurut saya maksud ayat batu yang dibelah di puncak bukit. jadi, ada dua hal yang menjadi fokusnya, yakni mengetahui (mengerti/memiliki ilmunya) dan menjalankan ayat-ayat Allah.

Dan dalam larik itu tidak hanya puncak sebenarnya, tapi titik puncak/tingkatan tertinggi. Karena itulah Arsyad Indradi menyebutnya dengan kulminasi. Lalu ayat-ayat yang manakah itu? Mari kita amati larik selanjutnya. “Yang terhampar di sajadahku” Apakah yang dimaksudkan itu? Jawabnya adalah sholat. Dalam hal ini ayat-ayat itu ialah ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan perintah sholat. Sangat banyak ayat-ayat dalam Alquran yang berisi perintah sholat. Termasuk juga ayat yang menerangkan faedah sholat seperti “Qod aflahalmu’minunalladzina hum fi sholatihim” (Almu’minun: 1—2). Yang artinya sungguh beruntunglah orang-orang yang mereka khusyuk dalam sholatnya.

Dalam sajak ini Arsyad Indradi menyadari betul sholat itu sebagai bentuk ibadah yang harus dijalankan dengan iman dan ilmu itu yang melahirkan keikhlasan. Keikhlasan itu yakni penyerahan diri di laut (keluasan kekuasaan Allah), lihat larik ketiga pada bait pertama itu. Sehingga, hanya Dia yang ada dalam setiap napas tatkala menyebut Allahu Akbar. Maha Besar Allah itu yang luasnya melingkupi seluruh alam.

Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah
Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu
Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih

Angin di sini bisa berupa cobaan dan godaan yang menerpa manusia-manusia sebagai kafilah di muka bumi ini. Hingga sebagian dari kita tersesat karena hati kita yang disimbolkan dengan “unta” telah ditiupi cobaan itu. Ada yang menarik di sini. Mengapa Arsyad Indradi tidak memakai kata “kuda” dan malah memakai kata “unta” sebagai simbol hati kita? Padahal kita sering mendengar bahwa penunggang kuda itu adalah pikiran/akal dan kuda itu sendiri adalah hati. Jika akal mampu mengendalikan hati, maka tak akan tersesatlah kita. Nah, di sini kok “unta”? Menurut saya ini untuk lebih mendekatkan puisi ini ke hal yang Islami. Karena unta dan Islam sama-sama akrab dengan tanah Arab. Tanah yang kita ketahui sebagai tanah turunnya Islam. Sebagian hati umat manusia memang telah tersesat atas pemikiran-pemikiran yang lemah (tergelincir) dan itu disebabkan oleh adanya cobaan dan godaan. Banyak di antara kita yang tergelincir di dunia ini, semisal sholat dengan berbahasa Indonesia. Sedangkan rasul saja memerintahkan kita untuk sholat seperti sholatnya beliau. “Shollu ra’aitumunni usholi” (Sholatlah seperti sholatku).

Kuseru namamu tak hentihenti
Di ruasruas jari tanganku
Yang gemetar dan berdarah
Tumpahlah semesta langit
Di mata anak Adam yang sujud di kakimu

Dalam sholat itulah kita benar-benar ingat dan tunduk kepada-Nya. Betapa syahdunya hati menyeru nama Allah dalam doa yang benar-benar khidmat. Terutama dalam sujud kita. Subhanallah sajak ini indah sekali.

Sajak di atas merupakan salah satu saja dari sekian banyaknya sajak-sajak Arsyad Indradi yang merupakan sesepuh bagi sastrawan di Kalimantan Selatan.

Mahmud Jauhari Ali mengomentari catatan Anda “Puisi-Puisi Cinta Arsyad Indradi “Romansa Setangkai Bunga” : Antara Kapal Berlabuh :

“membaca judul sajak ini memeras otak saya untuk memahami maksudnya. antara kapal berlabuh, sebuah judul yang unik dan seakan memainkan arti. ada apa antara kapal berlabuh itu. lalu kapal berlabuh dengan benda semacam apa sehingga ada kata “antara” di sana? apakah itu dermaga? inilah salah satu pentas bahasa puisinya Arsyad Indradi yang mengejutkan.

jangan ada sangsi ketika puput penghabisan
pertanda senja akan membawa kita
ke ombak yang paling jauh
muara tak lagi perbatasan bertolaknya

penggelan itu menggabarkan sebuah kesiapan yang harus kita tancapkan dalam-dalam pada jiwa kala usia beranjak tua dan lebih tua lagi. dalam penggelan ini, Arsyad Indradi bermain-main dengan kata puput, senja, ombak, muara, dan juga perbatasan. kata-kata itu sebagian merupakan simbol atas ungkapan-ungkapan jiwanya. ada nuansa keenggenan di sana untuk menuju tua. yang jelas kita tahu semakin tua, maka semakin banyak pula tanggung jawab bagai ombak yang bergulung di laut lepas. mulai kewajiban memeras keringat, mendidik istri, mengurus dan membesarkan anak-anak, dsb. di sini kita benar-benar disuguhi simbol-simbol sebagai penguat sajak ini.

sebuah kapal yang sarat dengan riwayat
yang kita aksarakan pada sebuah perjalanan
dan burungburung laut melepaskan
kepaknya ke karangkarang ketika
kelam menyempurnakan malam
adalah masasilam yang kita sauhkan
pada alir usia kita

penggelan berikutnya ini menggambarkan perjalanan diri kita yang memiliki riwayat hidup. riwayat hidup itu tentunya di masa silam. masa depan adalah riwayat hidup untuk kehidupan yang lebih lanjut lagi. Arsyad Indradi begitu asyik menyelami kehidupan pada penggalan ini. kapal, perjalanan, burung-burung, malam menjadi penarik keindahan hingga melekat padanya.

…sebab
langit tak lagi dapat menyimpan
pandangan mata bila kita akan
menghitung nasib antara kapal
berlabuh dengan pelabuhan
di mana kita menambatkan keyakinan
maka layar telah kita kembangkan
sebab laut adalah sebuah jalan panjang
yang mesti kita tempuh
dan kita tak perlu lagi berpaling

dari judul di atas yang menimbulkan tanya. akhirnya kita temukan di sini jawabannya. bukan antara kapan dan kapal, tetapi antara kapal dan dermaga/pelabuhan. ini merupakan perjalanan hidup kita yang penuh rona ini.

Kertak Hanyar,4 Feb 2010

Satu Tanggapan

  1. Dua puisi yang luar biasa sarat makna husuk dan romatik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s