Ketika Kata Menjadi Ikatan Bersaudara

Oleh : Ahmadun Yosi Herfanda


Di salah satu lantai Menara KL, para penyair nusantara antre baca puisi.Boleh saja negara berselisih paham, tapi para penyair tetap ingin menjalin ikatan rasa bersaudara. Dan, begitulah tekad sekitar 100 penyair nusantara–Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, dan Filipina–yang berkumpul di Kuala Lumpur, 20-22 November lalu. ”Meskipun Indonesia dan Malaysia masih berselisih soal Ambalat dan tari pendet, kami, para penyair senusantara, harus tetap bersaudara,” kata Shobier Purwanto, sekjen Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Maka, Menara Kuala Lumpur, yang menjulang tinggi ke angkasa, pun bertaburan kata-kata indah yang mengekspresikan semangat untuk tetap bersaudara. Para penyair dari negara-negara serumpun tersebut membacakan sajak-sajak mereka dengan berbagai gaya dalam satu bingkai semangat mempersembahkan puisi untuk persaudaraan. ”Acara semacam ini penting untuk memperkuat hubungan budaya antarsastrawan nusantara,” kata Baharuddin Zein, ketua Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia.
Forum persaudaraan dan kerja sama antarpenyair nusantara itu dikemas dalam acara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN). Ini adalah pertemuan yang ketiga setelah diadakan di Medan, Sumatra Utara (2007), dan di Kediri, Jawa Timur (2008). Semula, nama acara tahunan ini adalah Pesta Penyair Nusantara. Tapi, di Kuala Lumpur, kata pesta diganti pertemuan. ”Penggantian kata pesta menjadi pertemuan itu untuk menghindari kesan berhura-hura,” kata SM Zakir, ketua panitia pelaksana.
Baca puisi, diskusi, gathering, dan penerbitan antologi puisi penyair nusantara (karya semua peserta PPN) menjadi agenda utama tiap PPN. Di Kuala Lumpur, dengan tema Puisi Suara Kemanusiaan, acara baca puisi diadakan di tiga tempat secara berturut-turut. Malam pertama diadakan di gedung Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), hari kedua di Menara Kuala Lumpur (Menara KL), dan malamnya disambung di halaman Rumah PENA Malaysia. ”Saya percaya, puisi dapat meningkatkan rasa kemanusiaan kita dan juga rasa persaudaraan kita,” ujar SM Zakir.

Berebut
Pentas baca puisi di Menara KL menjadi pengalaman yang menarik bagi para penyair sehingga para penyair berebut untuk dapat dijadwal membaca di salah satu lantai menara setinggi 250 meter ini. Namun, pentas baca puisi di halaman Rumah PENA, yang berlangsung sampai dini hari, juga tidak kalah seru. Hanya di gedung DBP yang terkesan formal karena memang dalam rangkaian upacara pembukaan.
Pada malam pertama di DBP itu, dari delegasi Indonesia (30 penyair), diwakili oleh dua penyair muda–Ramayani (Jambi) dan Yopi Setia Umbara (Bandung)–untuk membacakan sajak-sajak mereka. Malaysia menampilkan beberapa penyair senior, seperti Siti Zainon Ismail, Zaen Kasturi, Shukri Abdullah, dan Lim Swee Tin. Begitu juga Brunei menampilkan Zeffri Arief, sedangkan Thailand menampilkan Jen Songsompant. Tampil pula seorang penyair dari Madagaskar yang membacakan sajak-sajaknya.
Penyair-penyair lain yang berhasrat menunjukkan kebolehan berucap di panggung mendapat kesempatan luas untuk tampil di Menara KL dan halaman Rumah PENA. Saking banyaknya penyair yang ingin membaca puisi di Menara KL, membuat acara
berlangsung hingga hampir lima jam. Sebelum membaca puisi, para penyair diberi kesempatan gratis untuk naik ke puncak Menara KL untuk menikmati panorama indah hamparan Kota Kuala Lumpur dari ketinggian sekitar 250 meter.
Penyair Indonesia yang beruntung mendapat giliran membaca puisi di Menara KL antara lain adalah Zulhamdani, Gunoto Saparie, Shobier Purwanto, Anwar Putra Bayu, dan Roel Sanre. Acara pentas baca puisi didahului pertunjukan tari Melayu khas Malaysia. Selanjutnya, panggung diisi para penyair yang membacakan puisi dengan berbagai gaya dan alat pendukung. Ada yang sambil memetik gitar, meniup seluang, dan ada pula yang sambil memukul rebana. Ada yang membaca dengan gaya standar, ada pula yang berteriak-teriak, atau setengah berdendang. Semuanya mengucapkan puisi untuk kemanusiaan dan persaudaraan.
Terlalu panjangnya acara di Menara KL, hujan yang menimbulkan suara agak bising dan embusan angin dingin dari teras menyebabkan beberapa penyair Indonesia, seperti Acep Zamzam Nor, Isbedy Stiawan ZS, dan Fakhrunnas MA Jabbar, mengurungkan niatnya untuk membaca puisi di Menara KL. Mereka memilih untuk dijadwal membaca di halaman Rumah PENA.
Begitu juga penyair-penyair yang belum tampil, seperti Dad Murniah, Doel CP Allisah, Lukman Asya, Heri Maja Kelana, Viddy AD Daery, A Rahim Kahhar, Hasan Al Banna, Machzumi Dawood, Faisal Syahreza, Tarmizi Rumah Hitam, Anto Narasoma Anwar Putra Bayu, JJ Polong, dan Nurhayat Arif Permana, mendapat giliran membaca puisi di Rumah PENA.

Dua buku antologi puisi
Agenda yang juga penting dalam rangka PPN adalah penerbitan buku, diskusi, dan gathering. Pada PPN Kuala Lumpur, program penerbitan buku mengalami kemajuan yang cukup berarti. Jika pada PPN sebelumnya hanya diterbitkan satu buku antologi puisi, kali ini dua buku antologi puisi, yakni satu buku berisi karya semua peserta dan satu lagi antologi puisi penyair muda Indonesia dan Malaysia.
Diskusi yang berlangsung sejak hari pertama hingga hari ketiga membahas berbagai persoalan terkini kepenyairan di negara-negara peserta, termasuk kerja sama antarpenyair nusantara ke depan.
Dari Indonesia, yang tampil sebagai pembicara adalah Acep Zamzam Nor, Viddy AD Daery, dan Ahmadun YH. Brunei menampilkan Sheikh Mansor dan Zefri Ariff.
Singapura menampilkan Djamal Tukimin, Sharifah Khadijah, dan Isa Kamari. Thailand menampilkan Jen Songsompant dan Abdul Rozak Pandangmalam. Sedangkan, dari Malaysia, yang tampil sebagai pembicara adalah Malim Ghozali Pk, Abizai Abi, Jasni Matlani, Dato Kemala, dan Lim Swee Tin. Sastrawan Negara Malaysia, Prof Dr Muhammad Haji Salleh, sebagai keynote speaker, menyampaikan orasi sastra dengan sangat memukau dan mencerahkan.
Puncak acara PPN sebenarnya adalah gathering–semacam forum musyawarah para penyair Nusantara–yang membahas hal-hal strategis tentang masa depan PPN, penyempurnaan kemasan acaranya, rekomendasi kerja sama untuk pengembangan sastra di nusantara, dan penentuan tempat PPN selanjutnya.
Dalam gathering di PPN KL, yang dipimpin oleh Mohamad Saleeh Rahamad dan SM Zakir, diputuskan bahwa Brunei Darussalam adalah tuan rumah PPN IV 2010. ”Insya Allah, kami siap melaksanakan PPN IV,” kata Zefri Ariff, penyair Brunei yang mendapat amanah menjadi ketua panitia pelaksana PPN 2010.
Dan, persaudaraan pun langsung berlanjut hingga di luar acara. Tiap malam sampai dini hari, para penyair dari negara-negara di Asia Tenggara itu berkumpul di warung-warung pinggir jalan, ngobrol santai tentang apa saja sambil berkelakar penuh tawa,
ditemani teh tarik, tomyam, dan mi rebus ala Malaysia.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: