MAWAR DAN PENJARA : MATA RANTAI KENANGAN DARI SEORANG PENYAJAK

Ahyar Anwar

Mengapa Andhika Mappasomba menulis puisi? Apakah Andhika Mappasomba menulis puisi karena senang menulis puisi dan mempunyai waktu senggang yang berlimpah dalam hidupnya? Pertanyaan-Pertanyaan tersebut perlu diajukan untuk memahami sajak-sajak yang dituliskan penyair dalam kumpulan puisinya Mawar dan Penjara ini. Andhika Mappasomba adalah seorang pengelana, tak pernah dapat tinggal dengan tenang pada satu tempat! Dia paham betul arti terpenjara dan terselubungi. Dari sisi inilah kita dapat mulai memahami sajak-sajak yang dituliskannnya dalam satu dekade dan kemudian terkumpul dalam antologi puisi di buku ini.

Antologi Puisi karya Andhika Mappasomba ini adalah sebuah skema metaforik dari perjalanan hidupnya. Penuh dengan gejala-gejala kesadaran interkoneksi, asimilasi, antisipasi, dan antiseden metaforik. Itulah sebabnya, sajak-sajak Andhika Mappasomba lebih tampak sebagai sebuah kesadaran metaforik dari konten kenangannya. Selain dari tradisi otentik penyair dalam mengartikulasi, menanggapi, mempertimbangkan, dan mewakili realitas peristiwa dalam bentuk kata-kata puitik.

Dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba, kita tidak hanya menemukan jalinan kata-kata puitik, tetapi juga begitu banyak peristiwa-peristiwa puitik. Dalam konteks inilah, jawaban dari pertanyaan “mengapa Andhika Mappasomba menulis Puisi?” dapat ditemukan akarnya. Andhika Mappasomba menulis puisi karena dia ingin melakukan rekonsiliasi puitik antara peristiwa yang dianggapnya puitik dengan artikulasi puitik. Penyair ingin merekonsiliasi peristiwa puitik yang tersembunyi dan terpapar dalam realitas yang ditemukannya agar terterjamahkan dalam artikulasi yang juga puitik.

Tentu tidak mudah menemukan peristiwa puitik, setidaknya peristiwa yang dianggap sebagai momen puitik bagi manusia. Pengembaraan dan kepekaan adalah modal fundamental bagi Andhika Mappasomba untuk melacak momen-momen puitik dan menuliskannya juga secara puitik. Pertemuan rekonsiliasi tersebut adalah pertemuan dramatik dalam sajak-sajaknya.

Andhika Mappasomba menjaga dengan serius misteri dari peristiwa puitik yang ditemukannya dan mencoba menyatakannya secara mistik. Maka, ketika kita membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba kita akan menemukan alur peristiwa puitik sekaligus sesuatu yang tetap misterius dari peristiwa itu. Kata-kata dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba menemukan kekuatan mistiknya secara romantik. Sajak-sajaknya menceritakan tentang dunia yang unik, bahwa “ada yang terkatakan pada saat harus ada yang tertutupi”. Sama dengan menjelaskan bahwa “ada yang penyair temukan pada saat ada yang harus membuatnya merasa kehilangan”.

Ketika Andhika Mappasomba menuliskan sajak cinta, maka yang akan kita rasakan bahwa sajak itu berasal dari sebuah momen puitik cinta yang dituliskan dengan artikulasi kata cinta yang puitik. Penyair ingin menegaskan bahwa ada cinta pada sebuah peristiwa sekaligus menutupi bahwa ada peristiwa dibalik cinta itu! Disitulah kita dapat dengan mudah menemukan rekonsiliasi kata-kata pada apa yang dijelaskan dan apa yang terselubungi.

Andhika Mappasomba menulis puisi bukan untuk mengatakan bahwa ada peristiwa pada suatu momen tertentu, tetapi lebih karena ada yang harus dijelaskan dari sebuah peristiwa dan tetap harus ada yang disembunyikan dari penjelasan itu. Rekonsiliasi antara ketelanjangan dan ketertutupan itulah yang mendasari Andhika Mappasomba untuk menuliskan sajak-sajaknya.

Lalu mengapa kita harus membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba?

Pertanyaan tersebut menjadi penting setelah kita tahu mengapa Andhika Mappasomba menulis puisi. Jawaban dari pertanyaan itu juga akan berimplikasi material untuk menjawab pertanyaan sertaan “mengapa kita harus memiliki buku puisi ini?”. Secara fundamental, kita akan membaca sesuatu jika kita tahu dan mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita jika tidak membacanya. Kita merasa harus makan karena kita tahu bahwa jika kita tidak makan maka hidup kita akan segera berakhir. Maka kita makan bukan karena kita mau makan atau tertarik dengan kelezatan sebuah hidangan, tetapi karena kita sadar dan paham betul arti dan makna kehidupan kita.

Dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba kita akan menemukan bagaimana keterpenjaraan dalam kebersamaan, bukan untuk merasa terpenjara, tetapi untuk menyadarkan kesadaran kita tentang kehidupan yang terpotong, tertutupi, terselubungi oleh peristiwa-peristiwa lain. Kita ini adalah sosok manusia yang terkatakan dan sekaligus terbungkam dan itu adalah sebuah kemungkinan yang tak terelakkan. Cinta, sebagai kata yang sangat banyak ditemukan dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba, bukanlah “cinta” yang kebanyakan diharapkan sebagai keindahan. Sajak-sajak dalam Mawar dan penjara justru menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang tampak ada sekaligus tersembunyi. Sesuatu yang kita rasakan sekaligus kita curigai.

Jika kita kembali pada pertanyaan, mengapa kita harus membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba? Tentu bukan karena itu adalah sebuah kesenangan tetapi karena kita ini, semua yang merasa diri sebagai manusia, adalah matarantai kenangan dari sejarah orang lain yang terkoneksi dalam sejarah diri kita. Kita sedang terpenjara dalam ruang waktu bersama dan harapan-harapan yang sama, tragedi dan kecemasan yang sama. Kita berada dalam sajak yang sama!

Bahwa cinta, kesedihan, penderitaan, kesenangan, kekayaan, keagungan hanyalah sebuah kepastian-kepastian yang bersifat sementara! Begitulah, kita harus tenggelam dalam sajak agar kita tidak terhina dalam kehidupan nihilistik dengan mengelak dari kehidupan normal yang menampakkan bahwa tak sesuatu yang bermasalah dalam hidup ini! Dan sesungguhnya kita selalu berada dalam bayang-bayang kesementaraan! Membaca sajak-sajak dalam Mawar dan Penjara ini, setidaknya membuat kita tidak meliciki diri sendiri dalam menafsirkan kehidupan.


*****Kiriman : Arif Agus Beege’h*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s