Membaca Suratmu

Arsyad Indradi

Membaca Suratmu
: Diah Hadaning


Setelah menerima sms darimu, hati selalu diliput rindu yang dalam. Setiap hari jika ada melintas petugas post, selalu bergegas ke muara pintu. Tetapi begitu gundah manakala ia tak singgah. Menanggung harap, hari berganti hari, duhai tiada juga kunjung pelunas rindu. Di tengah gerimis pagi, pengantar surat itu barada di beranda rumah menyerahkan sepucuk surat. Waw. Siapakah yang tak kan
berdeba-debar hatinya menerima surat yang lama ditunggu itu ? Siapakah yang tiada berbunga-bunga hatinya ketika bunga – bunga mekar di taman hatinya ?

Tulisan tangan yang elok, seakan sebuah wajah yang membayang. Senyum yang tulus. Gondosuli. Nyi Gondosuli. Gerimis itu telah usai.Angin menghamparkan wangi yang mengharum. Tanganku pelan membuka penutupnya, seakan jemari menyingkap sebuah goden jendela ketika pajar mengurai fanorama pagi.
Mata dan hati meniti setiap untai kata setiap melodi desah napas titik dan koma. Membawa ke sebuah negeri yang paling jauh namun terasa dekat di sanubari.Inilah sebuah negeri yang hanya dapat dicapai oleh kemurnian hati, sebuah negeri yang penuh dengan segala suka. Kenangan yang terlukis di sepanjang jalan, adalah pintalan benang siaturrahmi dan tertenun menjadi sebuah lembaran kain keabadian.
Aku tersentak dan terjaga pada sebuah kata “hai” serupa hembusan angin sejuk karena aku benar-benar hanyut dan tenggelam di arus telaga kenangan manis. Hai dari kelopak bibir yang mungil berayun di ujung tangkai pena. Dan, sepasang mata yang menatap, melebihi beningnya mata seorang bayi, menari di setiap untai kata. Ingat kan ? Seseorang dari negeri angsa putih, katamu, persis di antara dua petikan kata yang penuh dengan misteri metafora. Aku tersenyum kecil. Daku tak pernah melupa dalam berkas ingatan pada seseorang yang bernama Dimas Arika Mihardja. Matamu berbinar seribu bintang setiap tarian kata yang tertulis. Sebab tiga hati berpaut adalah rentang tangan-tangan kasih yang membentuk segi tiga sama sisi dalam hidup dan kehidupan ini.Kita bertiga bersulang mewedang cahya surya pagi, disepanjang cikini raya, sementara sepanjang malam Taman Ismail Marzuki itu mabuk dalam mimpinya.
Sampailah pada akhir surat kasih ini, sebuah sketsa seraut wajah yang sesungguhnya masih rapi kusimpan dalam bilik kalbu ini. Kujaga layaknya menjaga ruh dalam raga badan. Dan selarik manis menghias wajah itu :
Lembur Pancawati bersaksi
Saat kau dirikan prasasti
Kerja tak hanya tanda kau pernah ada
Tapi satu lagi bukti
Cinta seni tak pernah mati
Ttd
Diah Hadaning

Kumasukan kembali suratmu dalam amplopnya dengan senandung :
Berjalan di butirbutir gerimis
Tak mampu menyimpan harap dan cemas
Risalah yang tak juga rampungrampung

Tak yakin di kanan kiri jalan
Matahari lengser di situ
Kuhampar doa dalam lembayung senja

Siapakah yang tiada berbunga-bunga hatinya ketika bunga – bunga mekar di taman hatinya ?
Tulisan tangan yang elok, seakan sebuah wajah yang membayang. Senyum yang tulus. Gondosuli. Nyi Gondosuli. Gerimis itu telah usai.Angin menghamparkan wangi yang mengharum. Tanganku pelan membuka penutupnya, seakan jemari menyingkap sebuah goden jendela ketika pajar mengurai fanorama pagi.
Mata dan hati meniti setiap untai kata setiap melodi desah napas titik dan koma. Membawa ke sebuah negeri yang paling jauh namun terasa dekat di sanubari.Inilah sebuah negeri yang hanya dapat dicapai oleh kemurnian hati, sebuah negeri yang penuh dengan segala suka. Kenangan yang terlukis di sepanjang jalan, adalah pintalan benang siaturrahmi dan tertenun menjadi sebuah lembaran kain keabadian.
Aku tersentak dan terjaga pada sebuah kata “hai” serupa hembusan angin sejuk karena aku benar-benar hanyut dan tenggelam di arus telaga kenangan manis. Hai dari kelopak bibir yang mungil berayun di ujung tangkai pena. Dan, sepasang mata yang menatap, melebihi beningnya mata seorang bayi, menari di setiap untai kata. Ingat kan ? Seseorang dari negeri angsa putih, katamu, persis di antara dua petikan kata yang penuh dengan misteri metafora. Aku tersenyum kecil. Daku tak pernah melupa dalam berkas ingatan pada seseorang yang bernama Dimas Arika Mihardja. Matamu berbinar seribu bintang setiap tarian kata yang tertulis. Sebab tiga hati berpaut adalah rentang tangan-tangan kasih yang membentuk segi tiga sama sisi dalam hidup dan kehidupan ini.Kita bertiga bersulang mewedang cahya surya pagi, disepanjang cikini raya, sementara sepanjang malam Taman Ismail Marzuki itu mabuk dalam mimpinya.
Sampailah pada akhir surat kasih ini, sebuah sketsa seraut wajah yang sesungguhnya masih rapi kusimpan dalam bilik kalbu ini. Kujaga layaknya menjaga ruh dalam raga badan. Dan selarik manis menghias wajah itu :
Lembur Pancawati bersaksi
Saat kau dirikan prasasti
Kerja tak hanya tanda kau pernah ada
Tapi satu lagi bukti
Cinta seni tak pernah mati
Ttd
Diah Hadaning

Kumasukan kembali suratmu dalam amplopnya dengan senandung :
Berjalan di butirbutir gerimis
Tak mampu menyimpan harap dan cemas
Risalah yang tak juga rampungrampung

Tak yakin di kanan kiri jalan
Matahari lengser di situ
Kuhampar doa dalam lembayung senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: