SURAT SASTRA DARI DIAH HADANING: MENEBAR “VIRUS JINGGA” LEWAT SURAT SASTRA

Bertitimangsa: Pada suatu musim pancaroba.


Ketika negeri dilanda bencana-bencana, ketika ontran-ontran dan gara-gara tak kunjung henti, ketika perjuangan sisakan erang dan purnama masih sisakan tembang, aku tak henti membaca perjalanan diri dalam langkah selalu mencari. Aku ingin kau wakili mereka (mitra sastrawan nusantara) bersaksi dalam nyata dan mimpi: bukankah dunia kepenyairan merupakan gelar jagad jiwa antara nyata dan fatamorgana, yang membuat orang selalu masih punya harapan agar tetap bisa menyintai hidup dan kehidupan?

Mitraku, masihkah ingat kata mutiara itu: Per aspera ad astra? Melewati jalan berbatu dan berlubang baru bisa mencapai bintang. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Pokoknya, kerja keras dulu, baru meraih hasil. Cocok dengan perjuangan dalam dunia sastra, bukan? Jadi, tak ada kamus untuk kata ‘karbitan’, potong kompas, neka-neka agar diamati khusus. Semuanya lantas menjadi ‘sekedar’. Kalau sudah begitu, maka jagad kepenyairan ini dihuni oleh jiwa-jiwa ‘kepompong’. Yang tak mungkin mencapai AWARD. Lebih milih ramai-ramai cipta ‘booming sewaktu’. Kuharap mitra-mitraku masih setia pada satu kata: kejujuran. Kata yang tak pernah berubah, makna yang kita sepakati di benua PURBA penuh rimba kata-kata yang bisa dijungkirbalikkan oleh mereka dengan beliung dari ‘taring betara Kala’, itu Sang Guru Putra pemburu manusia penyandang sukerta.

Dimas, masihkah ingatanmu setajam silet waktu? Di tahun 1995 di Bengkulu, sebenarnya sudah lama aku ingin kita saling bincang kreatif penuh nuansa asah-asih-asuh. Sayang berita duka menghelaku pulang ke Pantura dan sempat kau dan Leak mengantarku ke pool bus malam pulang ke Jawa. Keinginan bincang kreatif yang tertunda sekian lama, 12 tahun, 624 kali purnama, tercicil sekuku kelingking ketika kita mengiring malam dari Plaza TIM sampai pindah tempat di lobi Hotel ALIA Cikini. Arsyad Indradi si Abah dari Banjarbaru setia bersaksi sampai subuh mengakhiri sua kita. Maka, lewat lembar-lembar yang memuati aksara, kata dan kalimatku kulanjutkan memeras tuntas kenangan kreatif penuh makna. Aku mencatat satu pelajaran: Penyair kecil merencanakan, PENYAIR AGUNG menentukan. Dan, surat sastra ini tebusan bagi keakraban yang sempat tertunda. Ya, segala yang tertunda harus ditebus.

Tak terasa musim begitu cepat bergulir kini sudah lewat purnama, tapi bukankah rembulannya sudah diboyong dalam dada, jadi biar gak pake senter malam-malam jalan di lorong kelam ya tetap saja padhang (terang benderang). [Eh, aku kok mak nyiuuut ingat subuh-subuh nyeberang jalan sambil berlari ngejar Kopaja 502 yang lintas depan Hotel Alia Cikini. Aku kok bisa melakukannya ya, padahal bis itu cukup kencang dan sudah gerak ketika kaki ini belum sempurna. Wow, jika si Abah tahu saat itu, tentu wong Banjar itu menimpuk jarak jauh tengkuk sopir Kopaja yang sembrono itu. Aku tak pernah bilang hal ini sama si Abah. Nanti kalau dalam kebersamaan gak boleh begadang lagi, meletotin aku sambil miringkan topi. Eh, awas ya jangan bilang yang barusan kutulis ini]. (Abah Arsyad Indradi menyaksikan peristiwa Diah Hadaning yang berlarian mengejar Kopaja 502. Si Abah seperti tersihir oleh kejadian itu lalu seolah ditampar oleh sebuah kesadaran: “Aku sungguh keterlaluan membiarkan peristiwa mengharukan itu lewat di depan mataku. Untuk mengenangnya, aku gubah dalam ‘Malam Penuh Riwayat’”, begitu SMS dari Abah Arsyad Indradi).

Mitraku, musim datang dan pergi, peristiwa silih berganti. Ada yang kehilangan, ada yang menemukan kembali. Ada yang minta tak jua diberi. Ada yang tak minta, diberi. Ada yang bertanya dibiarkan, ada yang belum bertanya sudah diberi tahu. Ada yang punya dua diambil satu namun ada yang minta satu diberi dua. Dan masih banyak contoh sejenis itu. Artinya, perhatikan petuah leluhur yang begini: Jadilah orang yang terkasih dan disayang (OLEHNYA). Tentu saja tidak mudah untuk menjadi seperti itu. Selain faktor perjuangan lahir batin, tentu besar pula pengaruh faktor keberuntungan. Indahnya keberuntungan, di mana jelas ada ‘ikut campur Tangan Tuhan’. Semoga kita-kita termasuk yang kuutarakan itu. Sampai usia cukup tinggi (senja bagiku dan jelang senja bagimu) kita masih diberkahi-NYA daya lahir batin. Betapa indahnya doa dan kidung alam.

Kita percaya, bahwa semua itu ada kaitannya dengan memaknai simbol Segi Tiga Sama Sisi? Suatu simbol yang pas bagi yang menjadi seniman. Kesadaran arti kehadirannya di jagad raya, khususnya jagad sastra, khusus lagi jagad kepenyairan. Dia hadir karena ada yang menghadirkan dan ada tempat untuk kehadirannya. Ya, kau, ya aku, ya mereka yang searena dengan kita. Kita adalah bagian dari segi tiga sama sisi itu. Yang tak memanipulasi posisi. Bahwa titik puncak adalah CAHAYA (DIA), titik kaki yang satu adalah bumi (KEHIDUPAN), titik satu lagi adalah kita (MANUSIA). DIA mengatur segalanya. Tahukah, aku tak pernah bermimpi jadi penyair seperti orang menyebutku. Aku diprogram jadi Pekerja Sosial (social worker) dengan pendidikan khusus. Tapi aku ‘mbalelo’ lantas otodidak sastra dan langsung ‘praktek’ nulis. Banyak hal pantas ditulis tapi juga banyak hal tak pantas ditulis apalagi untuk konsumsi rubrik budaya. Tahun-tahun 70-an hal ini memang sangat dipahami. Kupikir sangat beda dengan era pasca-reformasi. Semua dan segala bebas. Demokrasi diartikan ‘sangat bebas’ maka liberal lantas. Merdeka juga diartikan sangat merdeka mana suka, maka jadilah bablas. Sekarang bangsa ini (termasuk kita sebenarnya, kan kita termasuk bagian dari bangsa ini meski kita tak ikut menambah barisan yang kebablasan itu) maju kena mundur kena dalam segala aspek kehidupan. Dari hal politik, keamanan, sosial, budaya, lingkungan hidup. Ya, ketika kepentingan ikut bicara, semua nilai menjadi lain. Fakta membuktikan.

Mitraku, berbahagialah kita-kita, dalam jaman yang penuh poranda ini kita masih diberi kesempatan berkreasi, dan daya untuk bertahan di jalan-NYA. Ketika teknologi jadi panglima, benarkah sastra harus dimuseumkan? Ketika puisi cyber muncul, benarkah nyetak buku antologi tak diperlukan lagi? Tak sesederhana itu, kan? Bukankah kriminalitas di mana-mana puisi tetap ditulis penyair? Bukankah bom berjatuhan penyair tak henti menulis puisi? Bukankah hukum tegak ataupun kolaps puisi tetap kita tulis? Karena kita saksi jaman, bukan? Dan sebagai saksi harus mempertanggungjawabkan Pemberian-NYA. Ya, penyair memang wajib bertanggung jawab kepada TUHAN Sang Pemberi Bakat, kepada bangsa dan sesama karena merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan besar ini, dan bertanggung jawab juga pada nuraninya. Menulis yang layak ditulis dan tak menulis yang tak layak ditulis.

Mitraku, puisi memang tak sebatas kata-kata. Di tangan seniman (sastra) puisi bisa menjadi apa saja. Di sinilah fungsi itu. Bagai pedang sakti, jika jatuh di tangan pendekar hitam, bisa untuk membunuh. Jika jatuh pada pendekar aliran putih untuk menyelamatkan. Begitu pun puisi (rumpun kata-kata) itu. Ia bisa untuk membangkitkan semangat perjuangan, ingat puisi-puisi Chairil Anwar KERAWANG-BEKASI, CATATAN 1946, PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO, DIPONEGORO, misalnya. Puisi juga bisa jadi media balas dendam misal puisi-puisi mimbar bebas tahun 1998 dan puisi-puisi peduli bangsa di rubrik-rubrik budaya. Tapi puisi juga bisa membuat ‘kelenger’ jika penikmatnya tak kuat hati menikmati puisi-puisi gaya ‘syahwat merdeka’. Ya, puisi memang multi fungsi. Bisa jadi penyembuh, memberi pencerahan, menyemangati, komunikasi antarsesama, dan untuk skala yang lebih besar, bisa jadi jembatan silturahmi antarbangsa, meningkatkan hubungan baik dan saling memahami, dan lain-lain.

Percayakah, selama penyair masih sadar ruang, sadar waktu, dan sadar peran, puisi tetap ‘hidup’. Meskipun belum tentu bisa ‘menghidupi’ jika penyairnya termasuk yang masih berkutat dengan ekonomi. Jangan biarkan diri kita tergelincir pada gaya laris manis, bongkar pasang dan main-main dengan kata, karena mahkota puisi adalah bahasanya, pilihan katanya. Jika tak begitu, apa beda bahasa penyair dengan bahasa trotoar, bukan? Barangkali sebagian kalangan kita tak hirau ungkapan pemikiran Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang pernah digandrungi karena kumpulan puisinya LAUTAN JILBAB. Tapi aku percaya bahwa kau, para mitra serius dan juga aku sependapat dengan tokoh KENDURI CINTA ini; Jika terlalu berindah-indah dengan kata, jadinya puisi pepesan kosong. Ya, Cuma kata-kata indah yang dikemas. Tapi tak ada isi. Tak ada nilai. Tak ada visi dan misi.

Sebenarnya jika kita mau jujur, banyak nian yang bisa ditulis khususnya perempuan yang minoritas sebagai penghuni jagad sastra, yang tak hanya seputar cinta keluarga, sekitar meja makan, sebatas ranjang, maupun keberanian ‘membaca/menulis diri sendiri’, yang oleh sekalangan kritikus disebut kemajuan dalam berekspresi. Dari bacaan lama tentu kita ingat, bahwa para pujangga dulu, untuk menulis puisi, mereka perlu ‘nglakoni’ yaitu bersih jiwa raga agar karyanya prima. Maka karyanya bisa abadi. Menulis puisi bukan dengan rumus kontemporer: sama dengan buang gas lantas lega, bukan asal cret-cret-cret jadi puisi. Jika hanya sebatas itu, sungguh repot para redaksi budaya, karena harus sedia keranjang sampah, eh naskah, di sekitar meja.

Bagi penyair, mencari tentu bukan hanya untuk diri sendiri. Mencari makna jika dapat ia akan bagi dengan yang lain. Setiap gerak akan berdampak. Tak ada gerak yang sia-sia dalam hidup ini, sekecil apa pun. Selalu ada yang bisa dipetik dari segala hal dalam gelar semesta ini. Ada kalanya seusai membaca karya tertentu dari seorang penyair, kita merasa menemukan sesuatu, merasa lebih ringan perasaan yang semula menekan, merasa lebih dekat dengan Tuhan, dan banyak lagi.

Surat ini akan segera kuakhiri. Waktu telah menunjukkan jam 03.00 dini hari. Semoga semua mitraku di mana saja berada saat ini dalam keadaan baik. Jika saja aku telah memiliki padepokan seni serba guna, tentu setiap saat kubiarkan para mitra yang jauh transit di Teratak Gondosuli sebelum ke Jakarta. Tidak seperti sekarang ini, para mitra harus repot cari hotel di Jakarta untuk bermalam. Itu yang punya dana bagus. Yang minus dana? Dulu sebelum area sebelah Barat jadi TETER KECIL seluruhnya, ada WISMA SENI. Para seniman bisa dengan mudah mendapat tempat nginap dengan tarif yang terjangkau. Aku mimpi lho, dengan Gubernur baru nanti, Jakarta dengan TIM yang masih jadi kebanggaan(lah) dilengkapi Wisma Seni. Pemimpin juga harus sayang seniman, bukan?

Oya, masih ingat obsesiku? Menjadi Seorang Nyai, punya padepokan (GONDUSULI), tempat orang datang, menyapa, bertanya, berekspresi atau sekedar melepas kangen dan dialog kreatif berhari-hari, alangkah indah. Untuk mewujudkan mimpi besar itu, sudah berulang kali aku merilis untuk menyajikan dramatisasi puisi, yang honornya bisa untuk membangun padepokan di pinggir kota. Ada apotik hidup, ada pengembangan obat-obatan tradisional. Tentu saja ada pendapa untuk berekspresi dan diskusi ataupun melakukan berbagai ritualan. Apakah itu ritualan Syuran, Hari Bumi, ganti nama, bahkan potong rambut seniman yang ingin buang sengkala. Tapi semua itu masih tetap di awang-awang, karena sampai saat ini belum seorang pun dermawan-jutawan-milioner yang tergerak berbagi keberuntungan.

Mitraku, sebenarnya untuk hari lusa yang tersisa dari perjalanan kreatifku ini, aku masih tak punya gambaran jelas. Tapi aku tetap yakin, ada suatu MISTERI TUHAN ditujukan padaku, karena aku masih terus dan terus DIPELIHARANYA dan DIRAWATNYA sampai umur senja, dan tetap setia menekuni jagad kepenyairan meski secara materi memang tak menjanjikan. Aku tak peduli tak bisa jadi kaya seperti para novelis. Urusan rejeki yang ngatur YANG DI ATAS. Aku sudah sangat puas, diberi-NYA semangat terjaga, kesehatan AHA, banyak saudara, banyak mitra, ada cakrawala ada pula pelangi jingga di langit raya. Ah, indahnya alam raya dalam SIRAMAN KASIHNYA.

Aku pernah cerita, di setiap tikungan perjalanan usia, selalu ada ‘kendala’ dan eloknya, di setiap itu pula Tuhan ‘menghadirkan’ utusan-NYA untuk MENOLONG aku dalam sikon membutuhkan pertolongan dalam pengertian yang luas. Di dunia ini, selain semakin banyak manusia yang arogan, egois, sarkastis, sadis, borjuis dan ceriwis, ternyata masih banyak juga insan budiman, ramah dan sabar, menghibur dan suka menanyakan kesehatanku, mengajak canda dan ketawa meskipun jarak jauh. O, aku tak banyak kesepian, meskipun kesepian begitu akrab denganku. Tahukah? Hal-hal itu tonikum rohani bagi seumurku. Matur sembah nuwun GUSTI, paringipun keelokan puniki. Amin. Amin. Amin.

Salam kreatif selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: