.Dilema “Keberadaan” Bahasa Banjar Sebagai Bahasa Tulis

Pemahaman terhadap “puisi bahasa Banjar” adalah sesuatu yang memang dalam kondisi ‘bermasalah’, terutama tentang ada atau tidaknya kebakuan bahasa Banjat itu sendiri. Kadang berhadapan dengan situisi dimana segala kemungkinan dapat saja terjadi, apakah bahasa Banjar itu yang sering didengar sebagai pembicaraan masyarakat secara luas ataukah memang harus menggunakan idiom-idiom bahasa secara khusus, apakah bila menggunakan beberapa istilah yang sangat “langka” atau sangat jarang tetapi ada, maka itulah cara pengungkapan yang paling diutamakan ataukah sesuatu yang ringan dan telah sangat sering dikemukakan dalam percakapan sehari-hari di masyarakatBanjar itu sendiri. .

Berkaitan dengan pertanyaan terakhir pada kalimat di atas, biasanya ekspresi bahasa Banjarnya telah berbaur telah dengan struktur bahasa lain, walau ini pun tidaklah benar sepenuhnya pula, bahasa Indonesia terutamanya.

Dilema ini berdampak kuat pada situasi ketika ada yang menilai sebuah ‘puisi bahasa Banjar’. Tetapi memang harus diakui bahwa pembeda yang kuat dengan jenis atau ragam puisi adalah di sisi bahasanya, yaitu bahasa Banjar, dan otomatis jadilah ia sebagai ‘puisi bahasa Banjar ‘. Boleh jadi unsur tema yang melekat di dalam unsur pesan, sebagai fungsi untuk apa puisi itu diciptakan, tidaklah menjadi ukuran yang dikuatkan, ia akan menjadi biasa saja atau bahkan sama saja dengan jenis atau ragam puisi yang lain yang banyak bertebaran di ruang-ruang penciptaan.

Jadi, sebagai alat pengukur utama ketika adanya sikap apresiatif-kritis terhadap keberadaan sebuah ‘puisi bahasa Banjar’ adalah, kita menggunakan bahasa Banjar yang bagaimana. Kita pun sampai sekarang tidak atau belum memiliki semacam buku panduan khusus, minimal referensi yang memadai, atau ‘tokoh (figur) panutan‘ yang mampu dijadikan tolak ukur bahwa pemakaian atau pengucapannyalah yang dijadikan dasar, apakah keberadaan tokoh ini sedang berdomisili di daerah Tanjung dengan tata-cara berbahasanya, atau berada di Kandangan dengan tata-cara berbahasanya, atau berada di daerah aliran sungai Barito dengan tata-cara berbahasanya, bahkan mungkin saja dengan tata-cara berbahasa orang yang ada di wilayah Kotabaru-Batulicin-Pagatan. Jadi, dilema besarnya adalah ‘dimana kedudukan bahasa Banjar yang ideal itu’ dalam konteks sebagai bahasa tulis.

Berangkat dari dilema di atas, bukan berarti tidak dapat menentukan sikap dalam menilai puisi-puisi ( yang oleh penulis/pengirimnya diakui sebagai “inilah puisi bahasa Banjar” itu, menurut masing-masing tentunya ). Maka ketiga dewan juri lomba cipta puisi bahasa Banjar dalam agenda besar Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-7 tahun 2010 yang dilaksanakan di kota Tanjung, Kabupaten Tabalong adalah dengan jalan kesepakatan diambil berdasarkan musyawarah-mufakat.
Ada beberapa langkah telah ditempuh, yaitu (1) masing-masing juri melakukan pembacaan sendiri-sendiri, (2) masing-masing juri mengajukan sepuluh buah puisi unggulan. Dari unggulan masing-masing itu akhirnya didapatlah enam buah puisi yang disepakati bersama oleh ketiga anggota dewan juri sebagai juara I, II dan III, juara harapan I,II dan III.

Hasil puncak itu didapat setelah seluruh anggota dewan juri melakukan rapat khusus dalam diskusi yang intens, yaitu : (a) Secara umum pembahasan lebih fokus pada “inguh” atau boleh jadi “greget “ atau “nuansa” kebanjarannya, dengan kata lain tidak menitik beratkan apakah harus dialek Banjar Kuala atau Banjar Hulu. (b) Memperhatikan kebahasaannya seperti penulisan huruf yakni dalam bahasa Banjar baik Banjar Kuala mau pun Banjar Hulu, tidak mengenal huruf [ f ], [ q ],[ v ],[ z ] dan yang terdapat pada posisi akhir seperti bunyi [b] pada adab — adap, ahad—ahat (c) bentuk, batang tubuh atau tifografy puisi.(d) bentuk – bentuk metafora, pencitraan serta kekuatan bunyi atau rima.(e) Orisinalitas karya.

Banjarmasin, 23 Agustus 2010

Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar “Aruh Sastra Kalsel VII” di Tabalong,Tanjung, 26-28 November 2010
1. Arsyad Indradi
2. Ali Syamsuddin Arsy
3. Zulfaisal Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: