PUISI-PUISI JUMARDI PUTRA

 

Kepada Laila

Padi masih nampak muda, di waktu itu,
sampul sehidup-semati kusematkan padamu.
Se saat, reriuhan dedaunan tak kunjung tiba,
kecuali rekahan bibir ranummu yang aduhai eloknya
Sesekali terkatup, terkadang mengundangku untuk segera
bercakap-cakap denganmu, di kali jingga.
Kupandangi sekitar, petang nampak bersolek dalam wajahnya yang anggun pula.
Kuberanikan diri menyimpulkan, bahwa kau adalah Purnama yang
tumbuh berseri di laman hatiku, kini dan untuk selamanya.
.
Ingatkah, kupinang kau dengan sehimpun puisi,
dengan segala puja-puji kuhaturkan pada Ilahi,
karena seorang Permaisuri, menjadikan aku sebagai nahkodanya,
demi arungi samudra yang luas tak bertepi.

Kini, padi telah menguning dan siap panen,
risalah kita terus menapak bersama kaki waktu;
hidup sederhana bersama buah hati
Laila, bagimu, adakah purnama di dadaku

-Palembang. 2011.

MATA AIR MATA DARAH

: teruntuk rakyat Lapindo

Amuk lumpur menyembul gaduh
Gemeruncing getir menyelinap di keranda senja
Tiada lagi lagu lugu di kujur ladang
Gemuruh buruh sayup-sayup tak terjamah

Mata air, mata darah
Tersengal resah di peraduan malam

Empelu-Jambi, 20 Mei 2010.

Cintai Emak Sepenuh Hati

Baringlah Emak, tak usah cemas. Nasi sudah kutanak, air sudah kurebus. Gulai jengkol kesukaanmu, sudah selesai kuracik. Guyuran dedaunan dan reranting kayu di sekeliling gubuk pun telah kubersihkan. Semua Rebes..he..he..
Di bawah rinai hujan, kusempatkan bercakap-cakap dengan orangtuaku di serambi depan.
Nak, di antara sesak hidup ini, sempatkan sejenak membaca buku
dan belajarlah menulis apa yang patut kau sampaikan pada khalayak.
Itulah modalmu untuk bercakap luas,nantinya. ‘bahasa emak’ tak bisa lagi menjangkau carut marut kehidupan di abad edan ini, apalagi bahasa yang ‘mondar-mandir’ di jagad dunia gerak dan suara itu, telah menggiring orang untuk memuja kulit luar ketimbang isi dan manfaat.
“Iya Mak, aku selalu ingat pesanmu itu”, imbuhku.
“Pak, maafkan aku, hingga kini tak bisa mengharumkan nama negara di pentas dunia, sebagaimana mereka, yang tiap hari berpakaian seragam merah-putih, menjinjing tas dan belajar pada guru yang bermutu itu, berhasil menoreh tintas emas di bidang sain dan tekhnologi”, ibaku.
“Sudahlah nak, pintaku cuman satu, jangan sekali-kali kau nodai kemiskinan kita. Berbuatlah dengan kekayaan yang kau miliki. Bukankah itu pelajaran kebangsaan yang diajarkan kakekmu sewaktu kau masih kecil dulu. Sejatinya, ketika kau berusaha sekuat tenaga untuk berlaku jujur dan terpercaya, maka gelar putra bangsa adalah niscaya kau sandang.
Pergilah nak, bapak hari ini mesti berangkat ke Arab Saudi lagi.
Iya pak, baik-baiklah di sana. ‘Walau kau tak pernah mengatakan sayang padaku, tapi butir keringatmu di saat bekerja adalah kasihmu padaku dan emak yang tak mungkin bisa kubalas’, gumamku membatin.
Oh ya pak, pintaku cuman satu, cintami emak sepenuh hati.

***

Mentari, aku tak akan mencederai kasihmu yang tak pandang bulu
Gegap gemuruh di dadaku hanya untuk emak dan bapakku
Perihal negara, sudah kusisipkan dalam darah dan sumpah setiaku
Wahai manusia setengah hati, jangan kau lukai Ibu pertiwi
Jika itu pun terjadi, akulah orang yang pertama mengoyak-oyak kepongkahanmu
Seluas laut, kasihku hanya untukmu,emak.
Pak, bagaimanapun susahnya dirimu di tanah rantau itu
Aku bangga, jauh-jauh meninggalkan kami di kampung tak bernama ini
hanya ingin membuktikan bahwa kau layak jadi bapakku,
juga kekasih sejati emakku.
Emak, bapak, aku berangkat dulu
Walau gunungan sampah itu kian menanjak
Aku akan berusaha menjinjing matahari, setidaknya untuk esok hari.

Jambi, 2010.

Angin Sihir yang Kau Hembuskan ke Relung Batinku

(Silaturrahmi pada Anjing Dinihari, karya Isbedy Stiawan ZS)
oleh: Jumardi Putra

Dari muka pintu hingga ruang tamu, kumatikan segala penerang
Berharap ia akan meraba-raba arah
lalu jatuh di pangkuanku
Ya..kenakalan ini mesti terulang kembali
bersamanya, kekasihku.

Kutau, ini malam yang ketiga puluh satu ia tak di sampingku
Tetapi malam ini, cumbuannya adalah purnama bagiku

**

Jarum jam tepat jatuh di angka dua belas nol-nol
Tak ada tanda seseorang mengetuk pintu
Kasihku, inikah pulau seribu rindu itu
Sebagaimana angin sihir yang kau hembuskan ke relung batinku
Siapakah aku bagimu, kini yang tergolek layu menantimu

Sebagaimana Ibuku,
Berwaktu-waktu kutunggu, ayah yang juga majikanku
saat aku jadi anjing, tak juga pulang
Ibuku, yang juga tuan putriku, hanya bisa menangis
karena menyesal bersuami seperti ayah*

Meski malam-malam bersamanya
adalah tilas luka bagi ibuku
Untuknya, Ibu terus menunggu.
Aku pun iba pada Ibu. hingga berangku pada ayah semakin kuat.
Aku janji dalam hati, jika melihat ayah menginjak teras ini
setelah memasukkan mobil di garasi
segera aku menyalak, gigigigiku kian runcing
lidahku penuh liur menjulur
dan siap menerkam ayahku*

Aku, si anak bapakku, bapaknya anjing itu
tertatih memikul amarah di lekuk malam
Hingga kau di depanku, lelaki busuk, akan kukunyah dzakarmu.
Mengetahui berangku, Ibu pun terjaga lalu mengurai kasih:
“Dia tetap ayahmu, tak akan pernah bisa diubah
apalagi digantikan.*

* Puisi karya Isbedy Stiawan ZS ” Anjing Dinihari” (Miring), Rumah Aspirasi Rakyat, 2010.

-Jambi 15 Januari 2010.

Jumardi Putra. Pegiat Sasta. Beberapa puisinya terbit di beberapa media lokal Sumatra. Di samping dimuat di beberapa mediaonline juga tergabung dalam antologi bersama: Antologi Beranda Senja (2010) dan Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010). Kini menjabat Wakil Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bungo-Jambi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: