Lima Puisi Romantis Dari Facebook (1)

Ubay Baequni
TAMPARANMU

Setelah kulumat bibirmu waktu itu
Kau reflek menamparku, kemudian menunduk malu
Kau pun mengira perjalanan kita ini berakhir
Di saat rintik-rintik hujan dan kilatan petir
Yang tidak saja memerahkan pipimu, juga bibir
Tapi menyambar mukaku juga untuk sejenak berpikir
Masih setiakah hatiku? Begitu makna dari sorot matamu

Kesetiaan yang kutambatkan padamu
Telah lama menjaram berbalut nafsu
Hingga sore itu, kau pun memberitahu
Bahwa penantian tak selamanya memihak
Dan meminangmu menjadi seorang ratu

Aku tak bisa memastikan
Iringan rebana, janji suci dan kalungan melati
Bakal menjemputmu nanti
Aku mungkin hanya bisa meyakinkan
Kepadamu, bahwa jodoh takkan kemana
Meskipun jarak mejauhkan
Kesetiaanlah yang akan mendekatkan

Setelah kulumat bibirmu untuk kedua kalinya
Kau spontan mendongakkan wajah; memasrah
Dan kau pun menuntunku agar melepaskan rindu
Ketika kucoba meredupkan kedip lampu

Baiklah sayang, kita selesaikan dulu
Tamparan genitmu waktu itu
Kenapa? Apakah ada yang salah?
Ketika kemunafikan begitu berkuasa
Sedangkan aku begitu menjaga
Cintamu yang sedemikian meraja

Sebelum kau menjawabnya
Untuk yang ketiga kalinya kau malah meminta
Untuk dipeluk dan dicumbu, terutama di belahan dada
Kali ini, kau tak menamparku lagi
Bahkan kini, kau melucutkan sendiri
Kancing baju serta BH dengan tergesa-gesa
Sedangkan aku, hanya diam
Yah, diam. Harus mengucapkan apa?
Hanya saja jantungku bergetar
Begitu hebat dan luar biasa gemetar

Lidahku seperti mati rasa
Tanganku pun kaku entah mengapa
Tak mau menjamah apalagi mencoba bergerak
Atau sekedar memberi isyarat gejolak saja
Tidak sama sekali. Namun, birahiku menyala-nyala
Menghidupkan kamar dan memeriahkannya

Lama juga aku terdiam
Dan lambat-laun kau pun membungkam
Hanya berpeluk dingin di celah temaram
Mengenakan kembali yang kau lucuti tadi
Lantas membalikkan badan, menjauhi

Mulutku yang masih tertutup rapat
Tak bisa memberikan isyarat
Bahwa malam itu kita dipadatkan
Dengan cinta, rindu dan nafsu
Bukan kesetiaan yang selama ini
Aku jaga sepanjang musim berganti

…., 2010

Kwek Li Na:

BAYANGANMU

Mestikah kubiarkan
Rinduku berdetik
Pada jam waktu yang tak pernah mundur

Dalam diam. Menghitung dengkur malam
Menyaksikan cahaya bulan yang enggan keluar
Terhalang bayanganmu yang kian memancar

Taiwan, 4 Mei 2009

Dimas Arika Mihardya

SAJAK UNTUK YESSIKA

(1)

yang terbayang hanya jemarimu saat menyapa bibirku
sembari berkata: “adakah keabadian seusai kebisuan dan
kebisingan rayuan setiap saat? berapa harga sebait doa
yang melangit?” kau tak menjawab, hanya kian merapat
dan mengusap wajahku yang berdebu

(2)

kau selalu membuka jendela, hingga ruang pertemuan
menghangat saat kita saling dekap semalaman di ranjang
waktu menggelinjang. kaulah yang mengajarkan bagaimana
aku menyebut indah namamu malam itu, yessika
sungguh kita mengarungi bahtera bahagia

(3)

di jalan pasir berliku kutahu banyak tapak jejak untuk kembali
dalam dekapmu, yessika. aku mulai merasa harum tubuhmu
saat lidah ombak menyapu gambar hati terpanah di pantai
saat camar gemetar di tiang layar, kau pernah berujar:
perahu berlayar ke pangkuan!

(4)

sajak putih yang kugubah, yessika
adalah cermin yang menyumbulkan bayang cantik parasmu
saat bersolek memoles dan memulas alis mata cahaya
sajak yang tak letih menulis harum rambutmu
adalah bahasa diam, jauh dari mendendam

(5)

yessika, telah kurenggut topeng di muka pura
kini aku telanjang bugil dalam gigil mengekalkan
peradaban: ritual peribadatan!
riak dan ombak menjilat pantai sekadar untuk terburai
mengurai makna cinta!

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 2010

Eko Putra
Serenade Diam

– teringat Reni Oktari

mungkin untuk kesekian-kalinya angan-angan mengalahkan bahasa untuk kuterjemahkan ke dalam matamu yang menyimpan rasa cemburu
atau di lorong tak berpenghuni menjadikan kita saling menatap masing-masing isyarat. kitapun melemparnya ke atas. kau bergumam : aku menyukai bintang. tunggulah sebentar di bangku itu, aku ingin di sini menatapnya. tapi malam melayang ke sisi, tepat di antara angin yang tak dipetakan di buku diary, dan alamat kusimpan di lemari. membuat aku malas mengeja tanganmu yang bertolak menuju kenangan mati
sejak buku-buku mencatatnya, kau tak mungkin mengubah halaman yang ditumbuhi surat-surat dan pintu-pintu yang tak pernah terbuka oleh siapapun, termasuk aku
tetaplah diam, manakala aku menuliskan kembali ingatan yang jatuh dilindas puisi

2009

Arif Agus Bege’h

Sama Saja

atas nama cinta yang merasuki jiwaku bersama aliran bening
kupersembahkan kerinduan dalam segelas airmata
menimang hati mendayung rindu walau letihku melangkah
bersamamu kan terbangun gubuk putih
bertiang makna, beratap ketulusan
sama saja

kuhadir menjelma pertanyaan
di bibirmu yang basah, kau sebut abjad abjad karomah
jawabanku takkan dapat kau sentuh ketika cinta tak berserabut kasih
hadirlah, hadirlah dalam setiap doaku
umpan balik hati untuk sebuah tampahan sedihku
kemanakah kau yang tak ingin berlari bersama kakiku yang rapuh
rapuh karena mendekap kelamnya malam
sama saja

satu persatu tasbihku jatuh basahi sajadah
kala langit menyapaku dikotamu
kini diriku menyelipkan belati dipinggulmu yang seksi
bukanlah ancaman ataupun serangan
jadikanlah senjata menghujamku atas nama cinta
aku rela mati menhharap abadi dalam ingatanmu
sama saja

hari ini, pun esok
mereka, pun kalian
sama saja takkan bisa mengeringkan airmata yang basahi biru bahkan merahnya hatiku
seperti aku yang takkan bisa lepas dari kecintaan terhadap kesedihan
coba saja menghalangi laju sejarahku menyulam bahagia
kaukan menangis tanpa airmata saat bahagia tanpa tunjukNya

Sallugatta Sul-Bar,28/05/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: