Lima Puisi Romantis Dari Facebook (4)

ia kekasihku yang liar
oleh Kridha Rimbawan

sebagaimana ia berjanji
menantiku dilesung pipinya yang merah
saat kembara jiwaku mengusung jati diri
tinggalkan tanah caci makian
tumpah darah ibu pertiwi

masih kuingat jelas
lambaian alisnya menari-nari
serta kabut yang tipis
begitu lambat mengiringi
irama-irama gugur batu, tentang lagu rindu

antara aku dan dirinya . . .

adalah sepasang kekasih
belahan jiwa yang terasing
tenggat waktu berjarak seperempat petang
dan saling menjerat buas kenikmatan
kala bertemu mentari datang menyingsing

tak ubahnya seperti musim semi
bunga-bunga kapas menuruni lembah
serta rumput hijau
lantas mewarnai pasang air laut
semuanya terpagut mesra di muara tanpa batas

entah esok atau lusa nanti
aku pasti pulang
untuk menawarkan (lagi) liar-liar cinta

untuknya

Arsyad Indradi
Nalam Buat Yessika

Adakah lebih sanggama dari putik bunga
Dari kupukupu beribu warna
Kelopak romansa aroma semarainya
Tapi tibatiba jadi terbang kepak melayanglayang
Taman sukma jadi bayangbayang

Sejak kita di beranda itu Yessika
Kita pun tak pernah mampu menutup rawi kita
Yang tak habis ditulis dendamnya rindu
Saat berkaca pada jatuhnya tetes airmata
Yang selalu luput menafsir bahasa cinta

Sui Lan bisikmu lalu menatap cakrawala
Siapa meniti awangemawan yang berarak
Hatiku berkacakaca :
Duhai dua jiwa satu raga, satu raga dua jiwa
Tangan kita erat bergenggaman

Lalu kita pun melabuh sampan
Dari Barito dari Batanghari
Lalu kita dendangkan nalam kita :
( Sui Lan ) : Tebing mana menyimpan selaksa duka
Seloka luka
Kayuh bersimpuh
Mencari kemana riak arus pupus
( Yessika ) : Karang mana menyimpan selaksa duka
Seloka lara
Rindu yang luruh
Mencari kemana tempat berteduh
( Sui Lan ) : Barito mengalirkan dalamnya anganangan
Sungai tak ada lagi persinggahan
Putri junjung buih bermandi buih
( Yessika ) : Batanghari mengalirkan dalamnya impian
Sungai tak ada lagi tepian
Putri mayang bermandi mayang

Konon sampan itu Yessika masih juga berlabuh
Seperti tiada pernah sangsi mencapai muara ”DAMAI”
Aku masih ingat sayang kau menarik napas panjang

kssb,2 Jan 2011
(”DAMAI” = DAM-AI =Dimas Arika Mihardja –Arsyad Indradi)

perjamuan panjang dua dada
oleh Ramayani Riance

aku tak tau siapakah yang duluan mendatangi mimpi di perjamuan
ia lelaki yang menatap wajahku ataukah aku terpaut kehadirannya

tanya tersusun di balik tatapannya kata kata tak kuasa membelah resah
kau datang memecah tawaku lagi kini di perjamuan panjang dua dada

saat aku bosan segala kata malam kau datang membawa purnama itu
menebar selimut kerinduan ku lagi sengketa debar di dadaku terbakar

dinding dinding ruangan berputar menatap desah senyum saling-sahut
lalu peluk berebut tidur dan jagaku perjamuan dua dada begitu panjang

lalu bagaimanakah kita menjaganya perjamuan panjang ini akan terjaga
dan menuntut tiap menu yang segar sayang, bakarlah lilin lilin kerinduan itu

di meja rindu bersama sajian getaran agar perjamuan kita terus beri suka

2010

Kutitip Rinduku Pada Karang
oleh Ayib Rosidin

Lebih dari setahun yang lalu
sebelum kau bertanya
Jawabnya sudah kutulis

Sebuah kertas lusu
yang kau acak-acak
Lalu kau lempar
Diantara rimbun pohon ilalang

Kau tahu Ernando
Yang selalu mengirim pesan
Surat yang tak pernah kau baca

Begitu antusias
Hingga dia masih menggenggam
Tiap surat yang ditulisnya untukmu
Dengan harapan kelak
Kau akan bertanya-tanya
Siapa Ernando itu?

Lalu dengan dada yang membusung
Ribuan mata panah siap menerjang
Dia tetap tegar
Seperti karang
Yang menghalau laju ombak…

Dan tak akan kuceritakan
Siapa Ernando yang mengirimimu surat
Yang selalu kau acak
Tanpa kau baca sedikit pun.

Biarkan sosok Ernando
Menyatu dengan karang
Lalu karam di laut mati.

Juita di Nagam Malam
oleh Rama Prabu

isyarat gerimis yang dibawa angin
serupa tangisan tanpa sedu sedan
memantik bunyi kala jatuh di teras depan
halaman depan koran harian

seraut wajah juita, mengajakku menemukan malam disudut gelap
dalam lindap.
menarik ke ujung mimpi, pertemuan sunyi
memupus jejak lewat cara main sembunyi
antara kekasih dan pujaan hati

isyarat gerimis, jakar malam di ujung desember
jejaka yang tiba diujung jauhar
ketika sepasang mempelai mendaraskan janji
mengikat bulan diujung jaladri
sehidup semati

tapi, diantara para kerani
seraut wajah juita sering memunggungi diri
menyayat mimpi dengan puisi
melihat tanah lapang, padang terang bagi mereka yang merajah diri
lewat nagam, narasi tarian bumi

note:
*) jauhar itu intan, mani, benih manusia
*) jaladri itu lautan
*) juita itu nyawa, kekasih hati
*) kerani itu juru tulis
*) nagam itu karangan, keselarasan/harmoni

Bandung, 28 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: