Lima Puisi Romantis Dari Facebook (5)

oleh Ramayani Riance
Perempuan Pemecah Ombak

Ia seperti batu karang yang berdiri tegak menatap lautan
tenang menjaga merdu bumi di deru gelombang ombak
terik waktu memercikkan keluasan samudra di dadanya

Ia bertapa di riuh waktu meluluhkan segala kekerasan
menjaga daratan dari bengis ombak oleh doa doanya
suaranya sayup di pertapaan waktu yang tak beranjak

Ia lah pemecah ombak ombak liar di pantai hati kita
kembalikan ambisi dan keserakahan ombak pada laut

ialah ibu yang menjaga gelombang laut di jiwa kita

2010

DALAM REMANG RUANG RENJANA
oleh Monique Wien’z

Berlarik-larik aksara kusimpan dalam bejana
tak mengepul asap dijerang segenggam bara
padamkah api hingga panasnya tak menyulut rasa
sedesir angin berbisik tebarkan prasangka
luput melesat lepas dari pandangan mata
dalam remang ruang renjana,tubuh beringsut
bibir meniup menembus batas tepian surup
berharap gamang terbang menaut kilau gumintang
kusimak pesan yang singgah pada puncak frasa
memburaikan segala asa yang diam mengendap
kupunguti setiap bulir-bulir yang terserak
kusisipkan di kepak sayap-sayap awan
agar tersampaikan di semburat rinai hujan
tempiasnya kan menghapus selimut yang mengabut.

KOTA DINGIN; 25-12-2010

RAHASIA DIAM
~~ Eka Putri

seperti sesuatu yang tidak pernah kita sepakati.
perasaan, membuat kita takut kehilangan.

kita saling membohongi. cerita-cerita palsu
menjadikan segala yang tersimpan
seakan rapat dan tak mampu terbuka.

namun, seperti dulu, saat-saat kau bertanya padaku
tentang kota yang mengingatkan aku pada senyum
dan warna jilbabmu. juga tatapan mataku yang lebih gaib
dari rahasia maut. tak ada yang mampu
mengalahkan perasaan, selain kepergian….

(Palembang-Sekayu, 2010)

Air Mata Rembulan
oleh Rama Prabu

tadi malam, air mata rembulan turun lewat gerimis
menjejak bumi pada hening wajah musim
diantar angin desember
pelan masuk lewat celah cendela kamar
aku samar membaca alamatnya

mungkin air mata rembulan adalah rindumu
sengaja mengetuk pintu celah masa lalu
memberi isyarat agar hati kembali
bertegur sapa merapatkan diri
mencintai seurai wajah nubari

kini kau telah hadir dihadapanku
selembar surat ungu, berbaris-baris tapak hitam tanganmu
kau juga selipkan setangkai anggrek
yang hidup pucuk rembulan

tapi bujuk rayu, rajuk manja air matamu
rindu di surat ungu belum mampu memanggilku
kebali meraih tangan kasih
kembali mencumbu wajah rembulan
sepasi gerimis ditengah mimpi

Bandung, 17 Desember 2010

Sajak dan Pujangga Malam
oleh Elis Tating Bardiah
I/
Kemarin kita bertemu
aku hanya dapat menebak wajahmu dari luar jendela
tanpa ketuk pintu atau masuk ke ruang-ruang hatimu

II/
kenapa mesti di luar, sedang aku tak pernah punya pintu untukmu?

I/
kata siapa kau tak berpintu
sekilas kulihat pintumu menjulurkan lidahnya
pantulkan suara di dinding imajimu namun tidak di halaman mukamu
sungguh rimbun dengan kaku di sana-sini tertutup bekunya salju
seperti sajak yang kau taut di malam bisu
itulah dirimu ketika kutemu

II/
pintuku sudah tak bernama
maka ku ingin kau yang menamainya
dengan begitu kau adalah bagian dari rumahku
dan senyummu yang merah akan menghiasi dinding-dinding kamarku

I/
memang pintumu tak bernama
aku tahu dari burung malam
yang sering mengirimku sajak malammu
apakah kau tak keberatan jika aku menamai pintumu?
hingga kelak pada masanya
aku dapat berlama-lama mengeja bibirmu
yang semakin basah kau pagut di dinding kamarmu

II/
masuklah, aku tak ingin kau berdiri di luar pintu
lihatlah, malam mulai tak perawan
biarkan bulan dan bintang menyetubuhinya dengan berahi

mari kita cipta sajak paling indah diantara gelas dan meja

bolehkah kupinta satu padamu?
:biarkan aku meneguk binar matamu sekali lagi
setelah itu, tak perlu ada jarak di antara kita
seperti kedua mata, tak perlu waktu dan aba-aba untuk sekali kejap

I/
setelah kau hampar degap dalam cawan berahi yang nganga
aku tak kan siakan waktu hanya berdiri kaku mengulum rindu

sajakmu, sajakku kita tuang bersama
pada gelas-gelas yang kau sediakan untuk kita isi janji sehidup semati

jangankan binar mataku, singgasana hatiku telah kaududuki tanpa permisi
yang tak mungkin lagi bisa kuberikan pada sesiapa selain padamu
maka, mari kita lipat jarak di antara kita seperti kerjap kedua mata
tak perlu waktu dan aba-aba menutup dan membuka dia tetap setia
wahai pujangga malamku

By: Liz & Rangga
29 Okt 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: