PELUNCURAN NEGERI ANGSA PUTIH


Diam-diam Jambi terus hangat dalam kegiatan sastra. Selusin penyair berhimpun dalam satu antologi, meluncurkan karya puisi mereka bertajuk Negeri Angsa Putih. Launching yang dimeriahkan oleh pementasan Teater Tonggak dan Teater Air dengan artisrik garapan Daya Kreativitas Insani, menunjukkan berapa insan seni di Jambiberjalan seiring dalam keindahan silaturrahmi. Peristiwa sepanjang tiga hari di Gedung Teater Proscenium Taman Budaya Jambi, selain dihadiri oleh para sastrawan dan budayawan, juga tampak tamu-tamu dari jajaran birokrat ( antara lain Pemda, Kepala Disbudpar, Kepala Taman Budaya ). Hubungan antara pekerja seni dengan pemerintah cukup karib, semoga saja tidak serta-merta menurunkan kualitas karya dengan cara-cara kompromis yang anti-kritik, misalnya, Panitia juga mengundang para jusnalis dari media cetak dan elektronik, di antaranya Kompas, Jambi Ekspres, Jambi Independen, Postmetro Jambi, TVRI,RCTI,SCTV, Metro TV, TPI, dan Trans TV.

Dimas Arika Mihardja, selaku inisiator, penyair, juga dosen sastra, mewakili penyelenggara menyampaikan maksud dan tujuan peluncuran karya. Antologi swadana berisi 12 penyair itu dikemas begitu anggun dengan menampilkan penari. Lalu secara simbolik buku itu diserahkan kepada masyarakat (publik pembaca) melalui Dr.Maizar Karim, M.Hum (mewakili akademis), Junaidi T Noor (mewakili pemerintah daerah), Sakti Alam Watir (mewakili media massa). Acara berlanjut dengan pembacaan puisi dari masing-masing penyair untuk menginterpretasikan jiwa penciptaan mereka kepada audiens.

Sebelum dialog sastra, ada selingan lelang buku Negeri Angsa Putih. Panitia dan para penyair mengaku terharu ketika ada seseorang yang berani membayar 1,5 juta rupiah untuk satu eksemplar. Tentu bukan karena buku itu dinilai mahal, namun merupakan penghargaan khusus terhadap karya sastra yang kenyataannya di Indonesia masih terpinggirkan.

Para penyair yang telah melepaskan karyanya ke tengah publik itu adalah : Chory Marbawi, Dimas Arika Mihardja, EM Yogiswara, F.Monthana, Harry S. Haryono, Nanang Sunarya, Nanang Tarsuna, Nicky Handayani, Siti Asiah, Suardiman Malay, Titas SuwanYohana, dan Ita Kustiawati. Mereka bekerjasama dengan Bengkel Puisi Swadaya Manddiri.

Angsa Putih bagi komunitas sastra Jambi merupakan simbol cinta, petualangan, kesetiaan, keyakinan, dan kesucian. Puisi yang digubah dan dimuat dalam antologi itu secara metaforis “serupa dengan angsa putih yang tak lettih meniti buih kehidupan penuh kerinduan dan keharuan”. Tanggal 3 Juli memamng sudah berlalu, namun gema kerukunan seniman di Jambi itu patut menjadi teladan bagi komunitas-komunitas sastra lain di Indonesia, terutama Jakarta yang terus meletup-letup karena saling menguasai melalui dominasi kebudayaan.

********** Kurnia Effendi : Tabloid PARLE No.99 Th II 30 Juli-6 Agustus 2007 *******

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: