Cerita Mini (Cermin): GENANG KENANGAN

oleh Dimas Arika Mihardja

Kesan kunjungan, kunjungan yang berkesan. Begitulah, keluasan hati dan uluran tangan kebersamaan pada akhirnya menautkan juiga sebagian impian. Impian yang belum terkuak ialah bersama Tuan Djazlam Zainal di Jambi dan bersama di hajat pernikahan putra perdana Tuan Djaslam Zainal-Rosmiaty Shaari di Melaka. Akar budaya dan tradisi Melayu akan tumbuh dan mencengkeram tanah amanah. Kita sama-sama merindukan genang kenangan, saat terbayang tuan Djazlam bersila di atas ranjang menulis dan menulis sembari melupakan kumis dan janggutnya yang kian memanjang. Di dalam satu ranjang, segalanya mengambang dan menggelombang menjadi lorong-lorong kenangan.

Kupungut jaket kebanggaan Tuan Djazlam yang tertinggal di Hotel Jeumpa, Banda Aceh. Kupungut selembar sapu tangan yang terjepit di antara bangku lampu dan ranjang. Keduanya kuusap dan kubersihkan debu-debunya. Lalu kukabari De Kemalawati, ada kenangan yang tertinggal di Hotel Jeumpa sebuah jaket dan sapu tangan.

Kini masih lekat dalam ingatan, jaket itu pernah kucoba dan kukenakan sesaat lalu berkaca dan berkata “Kau bukan tuan Djaslam”. Mukaku masam. Akan kusapu muka masam itu dengan sapu tangan. “Jangan”, sebuah suara entah dari belahan jiwa mana melarangku. Maka kurapikan jaket dan setangan itu lalu kuserahkan pada Bung Helmi yang seperti parfum “SETIA SETIAP SAAT”.

Terima kasih bung Helmi Hass, De, Tuan Djazlam, Pak LK Ara, Rahmad Sanjaya, Iwan, dan sahabat hati di Banda Aceh. Semua telah menjadi kenangan yang indah.

Jambi, jelang akhir Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: